Program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Sragen mendadak menjadi pusat perhatian publik setelah ditemukan adanya menu yang tidak layak konsumsi. Pada hari pertama sekolah di awal bulan Ramadan, sejumlah siswa justru menerima telur rebus yang kondisinya masih mentah. Insiden ini terjadi di bawah naungan Satuan Pelayanan Makanan Bergizi (SPPG) Gondang 1 pada Senin (23/2).

Ketua SPPG Gondang 1, Afrizal, secara terbuka membenarkan adanya laporan mengenai kualitas makanan yang bermasalah tersebut kepada awak media. Ia menjelaskan bahwa paket nutrisi hari itu seharusnya berisi dua butir telur rebus, pisang cokelat, dan buah jeruk segar. Namun, kendala teknis di dapur pengolahan menyebabkan proses pematangan telur tidak berjalan dengan sempurna sebagaimana mestinya.

Pihak pengelola mendistribusikan sebanyak 2.400 paket makanan ke delapan sekolah berbeda di wilayah Sragen pada hari kejadian tersebut. Afrizal mengakui bahwa kejadian memalukan ini merupakan murni kesalahan teknis dari tim internal SPPG Gondang 1. Ia pun segera bergerak cepat untuk merespons keluhan yang muncul dari para guru dan siswa penerima manfaat program. "Itu memang kesalahan murni dari SPPG karena ada kendala teknis terkait pematangan telur," ungkap Afrizal saat memberikan klarifikasi resminya. Ia juga menambahkan bahwa terjadi miskomunikasi fatal antara tim pengolahan dengan petugas yang mengoperasikan alat pemanas atau steam. Akibatnya, ribuan butir telur tersebut dikeluarkan dari alat sebelum mencapai tingkat kematangan yang sempurna.

Sebagai bentuk pertanggungjawaban, pihak SPPG Gondang 1 memutuskan untuk mengganti seluruh menu telur bermasalah tersebut dengan produk lain. Sebanyak 4.800 kotak susu kemasan dibagikan kepada para siswa pada hari berikutnya sebagai kompensasi atas ketidaknyamanan yang terjadi. Langkah ini diambil secara menyeluruh guna menjaga kualitas layanan serta kepercayaan masyarakat terhadap program MBG.

Proses pengolahan ribuan telur tersebut sebenarnya sudah dimulai sejak pukul 02.00 WIB dini hari untuk mengejar jadwal distribusi ke sekolah. Namun, keterbatasan alat steam yang hanya mampu menampung ratusan butir sekali masak memaksa tim bekerja ekstra cepat dalam beberapa tahapan. Afrizal menyebutkan bahwa tekanan waktu dan kapasitas alat menjadi salah satu faktor pemicu terjadinya kelalaian petugas di lapangan.

Pasca kejadian ini, manajemen SPPG Gondang 1 langsung melakukan evaluasi total terhadap seluruh relawan dan tim pengolah makanan. Standar operasional prosedur (SOP) kini diperketat dengan mewajibkan uji sampel kematangan pada setiap tahap pemasakan sebelum makanan didistribusikan. Afrizal berharap permohonan maaf dan perbaikan sistem ini dapat mencegah insiden serupa terulang kembali di masa depan.

Sumber: Infonasional

https://www.infonasional.com/mbg-sragen-telur-rebus-ramadan