PORTAL7.CO.ID - Langkah strategis mulai disusun oleh Pemerintah Provinsi DKI Jakarta untuk menghadapi dinamika ekonomi terbaru. Di tengah suasana akhir pekan di kawasan Jakarta Selatan pada Minggu (19/4/2026), Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung memaparkan rencana besar untuk mengalihkan beban konsumsi energi masyarakat.
Kebijakan ini muncul sebagai respons cepat atas lonjakan harga bahan bakar minyak (BBM) nonsubsidi yang mulai diberlakukan sejak Sabtu kemarin. Pemerintah daerah kini fokus memperkuat sistem angkutan massal agar menjadi pilihan utama bagi para pengguna kendaraan pribadi.
"Pemerintah DKI Jakarta akan melakukan terobosan agar orang yang menggunakan BBM non-subsidi ini makin berkurang dengan cara mereka untuk mau naik transportasi umum," kata Pramono Anung.
Upaya ini secara khusus menyasar masyarakat kelas menengah ke atas yang selama ini menjadi konsumen utama bahan bakar nonsubsidi. Dengan memperkuat integrasi moda transportasi, diharapkan beban ekonomi akibat kenaikan harga energi dapat diredam melalui efisiensi mobilitas.
Berdasarkan data yang dilansir dari Detikcom, kenaikan harga menyasar tiga jenis komoditas energi utama di wilayah ibu kota. Jenis BBM yang mengalami penyesuaian harga tersebut meliputi Pertamax Turbo, Dexlite, dan Pertamina Dex.
"Yang pertama untuk BBM adalah kewenangan Pemerintah Pusat sehingga berapapun yang dilakukan penyesuaian harga BBM nonsubsidi, tentunya Pemerintah DKI Jakarta mengikuti itu," ucap Pramono Anung.
Gubernur menegaskan bahwa posisi Pemerintah Provinsi DKI Jakarta tetap konsisten dengan regulasi yang ditetapkan oleh pemerintah pusat. Terkait penyesuaian harga ini, pemerintah daerah memastikan tidak akan mengambil langkah intervensi pasar secara langsung.
"Sedangkan untuk subsidi kepada pengguna tentunya Pemerintah DKI Jakarta tidak akan melakukan," tambah Pramono Anung.
Merujuk pada rincian harga per 18 April, Pertamax Turbo kini menyentuh angka Rp 19.400 per liter setelah mengalami kenaikan sebesar Rp 6.300. Sementara itu, Dexlite dan Pertamina Dex mencatatkan lonjakan tajam sebesar Rp 9.400, dengan harga masing-masing menjadi Rp 23.600 dan Rp 23.900 per liter.