Aku selalu percaya bahwa hidupku akan berjalan sesuai cetak biru yang kususun sejak bangku kuliah: lulus dengan predikat terbaik, bekerja di ibu kota, dan mencapai puncak karier sebelum usia tiga puluh. Dunia terasa begitu jelas, seperti garis lurus yang hanya perlu kutapaki dengan kecepatan penuh.
Namun, semesta punya skenario lain. Tepat ketika amplop tawaran kerja impian ada di genggamanku, sebuah badai kecil menerpa keluarga kami, menuntutku untuk segera kembali ke rumah dan memikul tanggung jawab yang tak pernah kubayangkan. Mimpi-mimpi yang kubangun tinggi harus kuturunkan paksa, ditukar dengan realitas merawat dan menopang.
Keputusan itu terasa seperti mencabut paksa akar yang baru tumbuh. Aku harus menolak panggilan dari perusahaan multinasional itu, menggantinya dengan mengelola warung kelontong sederhana milik Ayah yang sedang sakit. Ada rasa pahit yang menyesakkan, sebuah pengkhianatan terhadap potensi diri yang selama ini kubanggakan.
Malam-malam awal terasa panjang dan sunyi, dihiasi suara jangkrik dan lampu jalan yang berkedip-kedip. Aku merindukan hiruk pikuk kota besar, percakapan intelektual, dan tantangan yang menjanjikan. Sekarang, tantanganku hanyalah memastikan stok gula tidak habis dan menghitung kembalian dengan tepat.
Perlahan, melalui interaksi dengan para tetangga dan mendengarkan keluh kesah mereka tentang harga kebutuhan pokok, aku mulai melihat kedalaman yang berbeda. Aku menyadari bahwa kesuksesan yang sesungguhnya bukanlah tentang jabatan, melainkan tentang seberapa besar kita bisa menjadi sandaran bagi orang lain.
Inilah yang disebut Novel kehidupan; alurnya tidak pernah linear, penuh plot twist yang menyakitkan, tetapi setiap babak mengajarkan empati yang tidak akan pernah kutemukan di ruang rapat ber-AC. Aku mulai menghargai senyum tulus dari seorang ibu yang terbantu karena aku mau berutang sebungkus mi instan.
Tangan yang tadinya disiapkan untuk mengetik laporan strategis kini cekatan menimbang beras dan menyusun botol minuman. Kelelahan fisik memang sering menyerang, tetapi di balik mata yang letih, ada ketenangan baru yang dulu tidak kumiliki. Aku tidak lagi mengejar standar dunia, melainkan berusaha memenuhi kebutuhan duniaku sendiri.
Aku menemukan keindahan dalam pengorbanan, sebuah proses pendewasaan yang brutal namun esensial. Melepaskan ego adalah babak paling sulit, tetapi setelahnya, aku menemukan diriku yang jauh lebih utuh dan kuat, tidak mudah goyah oleh janji-janji kemewahan fana.
Aku menutup buku besar warung, membiarkan debu senja masuk melalui jendela. Di sana, di balik kaca yang buram, aku melihat refleksi diriku yang baru—bukan lagi gadis yang hanya berani bermimpi, melainkan wanita yang berani hidup. Aku bertanya-tanya, jika aku tidak pernah memilih jalan ini, apakah aku akan pernah benar-benar mengenal arti cinta dan tanggung jawab yang sesungguhnya?