Aku selalu hidup dalam palet warna cerah, memandang dunia sebagai kanvas tak terbatas yang siap dihiasi idealisme. Impianku adalah aroma cat minyak, bukan aroma ragi yang mengembang di oven. Namun, takdir memiliki selera humor yang gelap; ia menarikku dari galeri seni menuju etalase toko roti keluarga yang tiba-tiba kehilangan nahkoda.
Toko Roti Senja, tempat orang tuaku menanam harapan bertahun-tahun, kini berada di ambang kehancuran. Aku yang terbiasa hanya memikirkan komposisi warna, kini harus berhadapan dengan komposisi keuangan yang memusingkan, hutang yang menumpuk, dan wajah-wajah karyawan yang menanti kepastian. Rasanya seperti dipaksa melukis dengan kapur di atas papan tulis basah.
Tiga bulan pertama adalah neraka. Aku tidak tahu cara menegur karyawan tanpa terdengar seperti anak kecil yang merengek, apalagi cara bernegosiasi harga tepung dengan distributor yang matanya setajam elang. Setiap malam, aku tertidur dengan aroma panik dan adonan basi yang gagal mengembang, merindukan masa-masa ketika kegagalan terbesarku hanyalah goresan kuas yang salah.
Puncaknya terjadi saat pesanan besar untuk sebuah acara batal mendadak, meninggalkan kami dengan ratusan kue yang harus dibuang. Air mata tumpah bukan karena kerugian materi, melainkan karena rasa malu dan pengakuan bahwa aku belum sanggup memikul beban ini. Aku ingin lari, kembali ke dunia idealis tempat masalah bisa diselesaikan hanya dengan menghapus cat.
Namun, di tengah puing-puing kegagalan itu, aku melihat pantulan mata ayahku di kaca etalase—mata yang penuh kerja keras dan pengorbanan sunyi. Aku menyadari bahwa perjuangan ini adalah babak paling jujur dalam Novel kehidupan yang harus kutulis sendiri. Kedewasaan bukanlah tujuan, melainkan proses menerima bahwa kita harus tetap berdiri tegak meski fondasi di bawah kaki terasa rapuh.
Keputusan sulit pun harus diambil: merampingkan tim dan menjual mesin mixer tua kesayangan ayah. Itu adalah keputusan yang melukai hati, tetapi perlu untuk menjaga jantung bisnis tetap berdetak. Aku belajar bahwa kepemimpinan sejati sering kali berarti memilih rasa sakit yang lebih kecil demi kelangsungan hidup yang lebih besar.
Seiring waktu, Toko Roti Senja mulai stabil, meski tidak pernah secepat dan semudah yang kubayangkan. Aroma ragi kini berbaur dengan aroma ketenangan yang pahit. Aku memang kehilangan sebagian besar waktu luangku, tetapi aku mendapatkan sesuatu yang jauh lebih berharga: pemahaman mendalam tentang arti tanggung jawab.
Aku tidak lagi memandang dunia dalam warna hitam dan putih; kini aku melihat gradasi abu-abu yang rumit dan indah—tempat perjuangan dan harapan bertemu. Pengalaman ini telah mengubahku dari seorang pemimpi menjadi seorang pelaksana, dari seorang idealis menjadi seseorang yang berani menghadapi kenyataan.
Mungkin aku belum kembali memegang kuas, tetapi aku telah melukis mahakarya terbesar: diriku yang baru. Dan kini, saat malam turun dan lampu etalase bersinar, aku bertanya-tanya, apakah setelah semua pengorbanan ini, aku benar-benar bisa melepaskan toko ini kembali, ataukah aku telah jatuh cinta pada beban yang telah membentuk jiwaku?