PORTAL7.CO.ID - Fenomena keberagaman pendapat dalam ruang publik kita saat ini sering kali berujung pada polarisasi yang tajam dan memprihatinkan. Alih-alih menjadi sarana pengayaan intelektual, perbedaan sudut pandang justru kerap dijadikan pemantik api permusuhan yang membakar tali silaturahmi. Sebagai umat yang dibekali dengan tuntunan wahyu, sudah sepatutnya kita merenungkan kembali apakah cara kita beradu argumen masih berpijak pada nilai-nilai Islam atau sekadar pemuasan ego yang dibungkus dengan narasi kebenaran. Islam tidak pernah melarang perbedaan, namun Islam sangat melarang perpecahan yang lahir dari ketiadaan adab.

Dalam berinteraksi dan menyampaikan kebenaran, Allah SWT telah memberikan garis panduan yang sangat jelas agar pesan-pesan kebaikan tidak terdistorsi oleh cara penyampaian yang kasar. Dialog dalam Islam bukanlah ajang untuk menjatuhkan lawan bicara, melainkan sarana untuk mencari titik temu dan kebenaran yang hakiki. Penting bagi kita untuk selalu merujuk pada perintah Allah dalam Al-Qur'an mengenai metode berdakwah dan berdiskusi yang santun:

ادْعُ إِلَىٰ سَبِيلِ رَبِّكَ بِالْحِكْمَةِ وَالْمَوْعِظَةِ الْحَسَنَةِ ۖ وَجَادِلْهُمْ بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ ۚ إِنَّ رَبَّكَ هُوَ أَعْلَمُ بِمَنْ ضَلَّ عَنْ سَبِيلِهِ ۖ وَهُوَ أَعْلَمُ بِالْمُهْتَدِينَ

Terjemahan: "Serulah (manusia) kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pengajaran yang baik, dan berdebatlah dengan mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu, Dialah yang lebih mengetahui siapa yang sesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui siapa yang mendapat petunjuk." (QS. An-Nahl: 125)

Allah SWT menegaskan tujuan dari penciptaan manusia yang beragam ini agar tercipta harmoni melalui proses saling mengenal (*ta'aruf*). Tanpa adanya kesadaran akan keberagaman ini, manusia akan terjebak dalam sikap sombong dan merasa paling benar sendiri. Perhatikan firman Allah yang menekankan pentingnya kemuliaan di sisi-Nya yang didasarkan pada ketakwaan, bukan pada fanatisme kelompok atau pendapat:

يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّا خَلَقْنَاكُمْ مِنْ ذَكَرٍ وَأُنْثَىٰ وَجَعَلْنَاكُمْ شُعُوبًا وَقَبَائِلَ لِتَعَارَفُوا ۚ إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ ۚ إِنَّ اللَّهَ عَلِيمٌ خَبِيرٌ

Terjemahan: "Wahai manusia! Sungguh, Kami telah menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan, kemudian Kami jadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kamu saling mengenal. Sesungguhnya yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa. Sungguh, Allah Maha Mengetahui, Maha Teliti." (QS. Al-Hujurat: 13)

Menjaga lisan dan menahan diri dari keinginan untuk selalu menang adalah bentuk jihad nafsu yang sangat besar. Islam menjanjikan kedudukan yang tinggi bagi mereka yang mampu mengendalikan diri dari perdebatan yang sia-sia. Sebagaimana disabdakan oleh Rasulullah SAW dalam sebuah hadits yang mengandung pesan mendalam tentang pentingnya menjaga kedamaian di tengah perbedaan:

أَنَا زَعِيمٌ بِبَيْتٍ فِي رَبَضِ الْجَنَّةِ لِمَنْ تَرَكَ الْمِرَاءَ وَإِنْ كَانَ مُحِقًّا وَبِبَيْتٍ فِي وَسَطِ الْجَنَّةِ لِمَنْ تَرَكَ الْكَذِبَ وَإِنْ كَانَ مَازِحًا وَبِبَيْتٍ فِي أَعْلَى الْجَنَّةِ لِمَنْ حَسُنَ خُلُقُهُ

Terjemahan: "Aku menjamin sebuah rumah di pinggir surga bagi orang yang meninggalkan perdebatan meskipun ia benar, dan sebuah rumah di tengah surga bagi orang yang meninggalkan kebohongan meskipun ia bercanda, dan sebuah rumah di puncak surga bagi orang yang baik akhlaknya." (HR. Abu Dawud No. 4800, dihasankan oleh Al-Albani)

Sebagai penutup, marilah kita kembali mempererat tali persaudaraan dan menjauhi segala bentuk perpecahan yang hanya akan melemahkan kekuatan umat. Persatuan adalah perintah yang sakral, sementara perselisihan yang memutus silaturahmi adalah pintu bagi kegagalan. Mari kita pegang teguh tali agama Allah dengan penuh kesadaran bahwa kita adalah satu tubuh yang saling menguatkan di bawah naungan iman yang kokoh.

وَاعْتَصِمُوا بِحَبْلِ اللَّهِ جَمِيعًا وَلَا تَفَرَّقُوا ۚ وَاذْكُرُوا نِعْمَتَ اللَّهِ عَلَيْكُمْ إِذْ كُنْتُمْ أَعْدَاءً فَأَلَّفَ بَيْنَ قُلُوبِكُمْ فَأَصْبَحْتُمْ بِنِعْمَتِهِ إِخْوَانًا

Terjemahan: "Dan berpegangteguhlah kamu semuanya pada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai-berai, dan ingatlah nikmat Allah kepadamu ketika kamu dahulu (masa Jahiliah) bermusuhan, lalu Allah mempersatukan hatimu, sehingga dengan karunia-Nya kamu menjadi bersaudara." (QS. Ali 'Imran: 103)