Gemericik hujan di jendela kamar selalu membawa ingatanku pada masa ketika ego masih merajai segalanya. Dahulu, aku mengira bahwa dunia harus berputar sesuai dengan keinginan dan rencanaku yang sempit.
Namun, kehidupan memiliki caranya sendiri untuk mematahkan sayap-sayap kesombongan yang tumbuh terlalu liar. Sebuah kegagalan telak menghantamku, memaksa kaki ini berpijak pada realitas yang selama ini kuhindari.
Aku belajar bahwa air mata bukanlah tanda kelemahan, melainkan cara jiwa membasuh luka yang terlalu dalam. Dalam kesunyian malam, aku mulai merangkai kembali kepingan diri yang sempat hancur berantakan.