Sahur bukan sekadar kegiatan makan dini hari, melainkan ibadah penuh keberkahan yang sangat dianjurkan dalam ajaran Islam. Rasulullah SAW mencontohkan amalan ini sebagai bekal energi sekaligus momentum penting untuk memantapkan niat sebelum berpuasa seharian penuh. Dengan melaksanakan sahur, seorang Muslim menunjukkan kesiapan lahir dan batin dalam menjalankan kewajiban suci di bulan Ramadan.
Mengacu pada buku *Fiqih Puasa* karya Dr. Thoat Stiawan, waktu sahur yang paling utama adalah menjelang fajar atau mendekati waktu Subuh. Umat Islam disunnahkan untuk mengakhirkan santap sahur hingga batas waktu yang cukup untuk membaca sekitar lima puluh ayat suci Al-Qur’an. Meskipun masyarakat Indonesia mengenal istilah imsak sebagai penanda, batas akhir makan yang sebenarnya adalah saat terbitnya fajar shadiq.
Niat merupakan rukun puasa yang sangat krusial dan dapat diucapkan setiap malam atau untuk satu bulan penuh sekaligus. Bacaan niat harian berbunyi *Nawaitu shauma ghadin ‘an adā’i fardi shahri Ramadana hadhihis-sanati lillāhi ta’ālā* yang berarti berniat puasa esok hari. Sementara itu, niat untuk sebulan penuh bertujuan menjaga keabsahan puasa jika seseorang tanpa sengaja lupa berniat pada malam-malam berikutnya.
Keberkahan sahur juga dapat diraih dengan senantiasa membaca doa sebelum dan sesudah menyantap hidangan yang telah tersedia. Rasulullah SAW menekankan pentingnya mengucap kalimat "Bismillah" agar makanan yang dikonsumsi membawa kebaikan serta keberkahan bagi tubuh. Jika terlupa di awal, umat Muslim dianjurkan membaca *Bismillahi fi awwalihi wa akhirihi* sebagai bentuk permohonan keberkahan yang susulan kepada Allah SWT.
Selain tata cara sahur, umat Islam juga perlu memahami doa berbuka puasa yang sesuai dengan tuntunan syariat yang ada. Salah satu versi doa yang populer adalah *Allâhumma laka shumtu wa ‘alâ rizqika afthartu* yang bermakna pengabdian penuh kepada Sang Pencipta. Doa ini menjadi ungkapan rasa syukur yang mendalam setelah berhasil menahan lapar dan dahaga demi menjalankan perintah agama.
Terdapat pula doa berbuka puasa versi kedua yang diriwayatkan secara shahih melalui Ibnu Umar RA dari Nabi Muhammad SAW. Doa tersebut berbunyi *Dzahabazh zhoma’u wabtallatil ‘uruuqu wa tsabatal ajru insyaa Allahu ta’ala* yang menggambarkan hilangnya rasa haus yang menyiksa. Kalimat ini mencerminkan harapan besar agar segala jerih payah selama berpuasa mendapatkan ganjaran pahala yang pasti di sisi Allah.
Memahami urutan doa dan waktu sahur yang tepat merupakan langkah awal untuk meraih kesempurnaan ibadah di bulan yang suci. Integrasi antara persiapan fisik melalui nutrisi yang cukup dan persiapan spiritual melalui doa akan memperkuat ketahanan selama berpuasa. Semoga seluruh rangkaian ibadah Ramadan tahun ini berjalan lancar dan diterima oleh Allah SWT sebagai amal saleh yang sempurna.