PORTAL7.CO.ID - Sektor pariwisata di Nusa Tenggara Barat (NTB) mengawali tahun 2026 dengan catatan yang kurang menggembirakan. Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan adanya penurunan signifikan pada jumlah kunjungan wisatawan mancanegara maupun domestik sepanjang Januari 2026. Tren negatif ini juga berdampak langsung pada merosotnya tingkat hunian kamar hotel di berbagai wilayah NTB.
Berdasarkan data resmi, Tingkat Penghunian Kamar (TPK) untuk hotel berbintang mengalami kemerosotan sebesar 6,97 poin. Kondisi serupa terjadi pada akomodasi nonbintang yang mencatatkan penurunan okupansi sebesar 4,52 poin dibandingkan periode sebelumnya. Penurunan ini mencerminkan berkurangnya aktivitas menginap para pelancong secara drastis di awal tahun tersebut.
Kepala BPS NTB, Wahyudin, menjelaskan bahwa fenomena penurunan ini merupakan dampak siklus tahunan pasca-libur panjang. Berakhirnya masa liburan Natal dan Tahun Baru (Nataru) serta libur sekolah menjadi faktor utama penyebab lesunya pergerakan wisatawan. Penjelasan tersebut disampaikan Wahyudin dalam rilis resmi di Mataram pada Senin (2/3/2026).
Arus kedatangan wisatawan mancanegara melalui Bandara Internasional Zainuddin Abdul Madjid (Bizam) tercatat anjlok hingga 18,27 persen. Total kunjungan turis asing hanya mencapai 7.714 orang, dengan dominasi tetap berasal dari kawasan Asia Tenggara atau ASEAN. Malaysia menempati posisi teratas sebagai penyumbang turis terbanyak, diikuti oleh Singapura dan Jerman.
Tidak hanya turis asing, pergerakan wisatawan nusantara ke NTB juga mengalami penyusutan sebesar 10,80 persen pada Januari 2026. Total kunjungan domestik tercatat sebanyak 1.194.306 orang, angka yang lebih rendah dibandingkan capaian pada Desember 2025. Sebagian besar dari pelancong domestik ini merupakan warga lokal yang melakukan perjalanan antar kabupaten/kota di NTB.
Wahyudin merinci bahwa sekitar 94,71 persen dari total wisatawan nusantara tersebut merupakan pergerakan internal di dalam wilayah NTB sendiri. Sementara itu, sisa kunjungan sebesar 6,29 persen berasal dari luar provinsi seperti Bali dan beberapa wilayah di Pulau Jawa. Wisatawan asal Jawa Timur, Jawa Barat, Jakarta, dan Jawa Tengah tetap menjadi pasar utama bagi pariwisata NTB.
Meskipun terjadi penurunan pada segmen hotel berbintang, akomodasi nonbintang justru mencatat kenaikan tipis sebesar 9 persen dengan total 123.411 tamu. Hal ini menunjukkan adanya pergeseran preferensi menginap di tengah lesunya arus kunjungan secara keseluruhan pada awal tahun. Pemerintah daerah diharapkan dapat melakukan evaluasi strategis guna memulihkan kembali gairah pariwisata di bulan-bulan berikutnya.
Sumber: Infonasional