PORTAL7.CO.ID - Pelemahan signifikan mata uang Rupiah yang kini menembus level psikologis Rp17.000 per dolar Amerika Serikat (AS) diprediksi akan memberikan beban berat bagi masyarakat melalui lonjakan biaya hidup sehari-hari.

Data terbaru dari pasar menunjukkan bahwa mata uang Garuda sempat menyentuh angka Rp17.017 per dolar AS pada sesi pembukaan perdagangan hari Senin (9/3/2026), dilansir dari Money.

Kondisi ini menimbulkan kekhawatiran serius, terutama bagi Indonesia yang masih bergantung pada impor energi. Direktur Eksekutif Center of Economic and Law Studies, Bhima Yudhistira, menyoroti dampak langsung dari pelemahan kurs ini.

"Paling dekat ada risiko harga BBM dan elpiji naik. Dua produk itu sensitif ke pelemahan kurs karena impornya besar," ujar Bhima Yudhistira.

Beban impor energi diperparah dengan harga minyak mentah dunia yang telah melampaui ambang batas 100 dolar AS per barel, meningkatkan sensitivitas kurs terhadap produk energi impor.

Kenaikan harga bahan bakar ini diperkirakan akan memicu efek domino pada seluruh rantai pasok, yang pada akhirnya akan meningkatkan harga kebutuhan pokok. Hal ini berpotensi menciptakan krisis biaya hidup di tengah masyarakat.

Bhima Yudhistira menjelaskan dampak lanjutan dari krisis ini terhadap daya beli masyarakat. "Dampak ke masyarakat, barang makin mahal karena cost of living crisis," kata Bhima Yudhistira.

Lebih lanjut, sektor industri nasional juga diperkirakan akan merasakan tekanan hebat, memaksa perusahaan mengambil langkah efisiensi ketat yang dapat berujung pada Pemutusan Hubungan Kerja (PHK).

"karena perusahaan naik biaya produksinya juga jadi konsekuensi berantai dari pelemahan kurs," ucap Bhima Yudhistira, merujuk pada potensi PHK akibat pembengkakan biaya operasional.