JAKARTA – Nilai tukar rupiah yang kini menyentuh kisaran Rp17.300 per dolar AS menjadi sorotan publik di media sosial. Meski memicu kekhawatiran, pemerintah menegaskan bahwa kondisi ini masih berada dalam batas wajar dan tidak mencerminkan krisis ekonomi seperti yang terjadi pada tahun 1998.
Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menyatakan bahwa perkembangan nilai tukar saat ini masih masuk dalam skenario yang ditetapkan pemerintah. Ia memastikan defisit Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) akan tetap terjaga di bawah ambang batas 3 persen.
"Jadi, masih masuk (skenario). Kalau perlu, nanti kita buat APBN Perubahan (APBN-P). Namun, saat ini belum ada pemicu yang cukup untuk itu. Kondisi masih aman," ujar Purbaya dalam Media Briefing di Badan Pendidikan dan Pelatihan Keuangan (BPPK) Kementerian Keuangan, Jakarta, Jumat (24/4/2026).
Berdasarkan asumsi makroekonomi APBN 2026, pemerintah memproyeksikan nilai tukar rupiah berada di level Rp16.500 per dolar AS dengan harga minyak mentah Indonesia (ICP) sebesar 70 dolar AS per barel. Adapun defisit APBN 2026 ditargetkan mencapai 2,68 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB).
Purbaya menekankan bahwa pelemahan rupiah tidak menunjukkan pemburukan fundamental ekonomi domestik. Menurutnya, posisi rupiah bahkan cenderung lebih kuat dibandingkan mata uang negara-negara lain di kawasan regional.
"Rupiah dipengaruhi oleh kondisi global dan ekspektasi. 'Noise' di dalam negeri inilah yang membentuk ekspektasi tersebut. Kita harus mengendalikan ekspektasi publik, meski itu bukan ranah saya sepenuhnya," tambahnya.
Bukan Krisis 1998
Meski secara nominal nilai tukar rupiah berada di level terlemah dalam sejarah, analisis menunjukkan situasi saat ini sangat berbeda dengan krisis moneter 1997–1998. Pada masa itu, rupiah mengalami depresiasi ekstrem lebih dari 600 persen, dari Rp2.300 ke Rp16.800 per dolar AS dalam waktu singkat. Dampaknya pun masif, dengan kontraksi ekonomi mencapai minus 13 persen dan inflasi melonjak hingga 70 persen.
Sebaliknya, kondisi ekonomi saat ini dinilai tetap stabil. Aktivitas ekonomi masih bertumbuh, inflasi terkendali, dan sistem keuangan nasional berada dalam posisi yang kokoh. Oleh karena itu, menyamakan pelemahan saat ini dengan krisis 1998 dinilai tidak relevan secara data.
Tekanan Faktor Global
Pelemahan rupiah saat ini lebih banyak dipicu oleh faktor eksternal, terutama kebijakan moneter ketat di Amerika Serikat yang memperkuat posisi dolar secara global. Selain itu, ketegangan geopolitik di Timur Tengah turut memicu kenaikan harga energi dan memicu arus modal keluar (capital outflow) dari pasar negara berkembang (emerging markets).