PORTAL7.CO.ID - Masyarakat Indonesia perlu bersiap menghadapi potensi lonjakan harga kebutuhan pokok segera setelah perayaan Idul Fitri 2026 berakhir. Ancaman ini muncul seiring dengan pelemahan signifikan nilai tukar Rupiah yang dilaporkan telah menyentuh level Rp17.000 terhadap Dolar Amerika Serikat pada Senin, 9 Maret 2026.
Pemerintah saat ini sedang mengalokasikan sumber daya untuk meredam gejolak inflasi melalui berbagai intervensi pasar dan pemberian subsidi selama periode Ramadhan dan Idul Fitri. Langkah strategis ini bertujuan utama menjaga stabilitas daya beli masyarakat dalam jangka pendek menjelang hari besar keagamaan.
Pengamat mata uang dan komoditas, Ibrahim Assuaibi, menyoroti fokus pemerintah saat ini pada upaya subsidi untuk menenangkan pasar domestik. Beliau mempertanyakan sumber pendanaan intervensi tersebut, namun menegaskan bahwa dukungan pemerintah diperkirakan hanya bertahan sekitar 20 hari ke depan.
"Kalau saat ini kita lihat bahwa pemerintah sedang fokus ya untuk melakukan subsidi. Dari mana uangnya? Hanya pemerintah yang tahu kan. Tapi pemerintah masih akan terus di bulan puasa ini," ujar Ibrahim Assuaibi mengenai upaya pemerintah dalam menjaga stabilitas harga sementara waktu.
Tekanan kenaikan harga diperkirakan akan mulai terasa begitu masa intervensi subsidi berakhir, terutama jika posisi Rupiah gagal menguat. Pelaku usaha diprediksi akan terpaksa melakukan penyesuaian harga sebagai respons atas membengkaknya biaya produksi yang mereka tanggung.
Sektor industri makanan dan minuman, khususnya produk siap saji, diprediksi akan menjadi indikator awal dari penyesuaian harga pasca-Lebaran. Kenaikan harga pada merek-merek besar akan menandakan bahwa beban biaya operasional sudah melampaui batas kemampuan produsen untuk menahannya sendiri.
Ibrahim Assuaibi kembali mengingatkan bahwa kondisi ketidakpastian ekonomi saat ini berisiko memicu kenaikan harga secara umum setelah Lebaran. Sebagai contoh, produk dari gerai makanan populer seperti Solaria atau Pizza diperkirakan akan menyesuaikan tarif mereka mengikuti mekanisme pasar yang berlaku.
Gangguan dari sisi eksternal turut memperparah situasi domestik, terutama dengan adanya penutupan jalur Selat Hormuz akibat konflik yang memanas di Timur Tengah. Kejadian ini langsung memicu kenaikan tajam harga minyak mentah global dan semakin memperkuat posisi Dolar AS.
Gangguan pada jalur suplai energi vital dari negara-negara produsen minyak seperti Arab Saudi, Irak, Uni Emirat Arab, dan Oman menyebabkan penipisan pasokan energi di pasar global. Situasi ini bertambah buruk dengan adanya laporan serangan yang menargetkan sejumlah kilang minyak di zona konflik tersebut.