Shalat merupakan fondasi utama bagi setiap Muslim yang membedakan identitas keimanannya dengan kekufuran secara nyata. Namun, ibadah ini sering kali terjebak dalam rutinitas fisik tanpa melibatkan kehadiran hati yang mendalam atau hudhurul qalb. Tanpa ruh ketenangan, gerakan shalat hanya menjadi beban kewajiban yang kehilangan esensi transformatifnya bagi kehidupan sehari-hari.

Khusyu secara etimologis mengandung makna ketundukan total, ketenangan fisik, dan rasa rendah diri saat menghadap Sang Pencipta. Para ulama salaf menegaskan bahwa shalat tanpa kekhusyuan ibarat jasad yang tidak bernyawa dan tidak memberikan dampak spiritual yang kuat. Kesadaran intelektual akan kebesaran Allah menjadi kunci utama dalam meraih kualitas ibadah yang sesungguhnya di hadapan-Nya.

Al-Quran memberikan penegasan mengenai kriteria orang-orang yang beruntung melalui kualitas shalat yang mereka dirikan dengan penuh kesungguhan. Allah SWT berfirman dalam Surah Al-Mu'minun mengenai pentingnya menjaga kekhusyuan sebagai syarat utama kemenangan seorang mukmin di dunia dan akhirat.

قَدْ أَفْلَحَ الْمُؤْمِنُونَ الَّذِينَ هُمْ فِي صَلَاتِهِمْ خَاشِعُونَ

Terjemahan: "Sungguh beruntung orang-orang yang beriman, (yaitu) orang yang khusyuk dalam shalatnya." (QS. Al-Mu'minun: 1-2)

Dalam perspektif fiqih batin, khusyu merupakan perpaduan harmonis antara ketenangan anggota badan dan kesadaran ruhani yang mendalam. Para ulama menekankan pentingnya mempersiapkan hati sebelum takbiratul ihram agar urusan dunia tidak ikut masuk ke dalam ruang ibadah. Shalat yang benar harus mampu menggetarkan jiwa dan menghadirkan rasa takut sekaligus cinta yang besar kepada Allah.

Penerapan khusyu dalam kehidupan sehari-hari dapat dimulai dengan memahami setiap makna bacaan doa yang dilantunkan dalam setiap rukun. Hindarilah sikap terburu-buru dalam berpindah gerakan agar tumakninah dapat terjaga dengan sempurna selama proses ibadah berlangsung. Lingkungan yang tenang serta niat yang ikhlas juga sangat membantu seseorang untuk mencapai level kedekatan spiritual yang maksimal.

Marilah kita jadikan shalat sebagai sarana komunikasi paling intim dengan Allah, bukan sekadar penggugur kewajiban harian yang melelahkan. Dengan meraih hakikat khusyu, shalat akan menjadi sumber kekuatan moral dan ketenangan batin yang luar biasa bagi setiap mukmin. Semoga setiap sujud yang kita lakukan mampu membawa perubahan positif bagi akhlak dan perjalanan spiritual kita menuju rida-Nya.

Sumber: Muslimchannel

https://muslimchannel.id/post/hakikat-khusyu-dalam-shalat-bedah-teologis-dan-praktis-berdasarkan-al-quran-dan-as-sunnah-1