PORTAL7.CO.ID - Ibadah puasa merupakan salah satu rukun Islam yang memiliki kedalaman spiritual dan dimensi hukum yang sangat luas. Secara etimologis, *ash-shiyam* berarti *al-imsak* atau menahan diri, namun secara terminologi syariat, ia adalah bentuk ketundukan mutlak seorang hamba kepada Sang Khalik. Para ulama menekankan bahwa puasa bukan sekadar menahan lapar dan dahaga di siang hari, melainkan sebuah madrasah ruhani untuk membersihkan jiwa dari noda-noda kemaksiatan. Oleh karena itu, memahami landasan hukumnya menjadi sebuah keniscayaan agar ibadah yang kita jalankan tidak sia-sia dan benar-benar mencapai derajat takwa.

Landasan utama kewajiban puasa telah termaktub dengan sangat jelas dalam Al-Qur'anul Karim. Allah Subhanahu wa Ta'ala memerintahkan hamba-Nya yang beriman untuk menjalankan ibadah ini sebagaimana umat-umat terdahulu, sebagai sarana untuk mencapai kemuliaan di sisi-Nya. Tanpa pemahaman dalil yang kuat, seorang Muslim mungkin akan kehilangan arah dalam menjalankan rutinitas ibadah tahunan ini. Berikut adalah firman Allah yang menjadi fondasi utama dalam diskursus fiqih puasa:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ . أَيَّامًا مَعْدُودَاتٍ فَمَنْ كَانَ مِنْكُمْ مَرِيضًا أَوْ عَلَى سَفَرٍ فَعِدَّةٌ مِنْ أَيَّامٍ أُخَرَ وَعَلَى الَّذِينَ يُطِيقُونَهُ فِدْيَةٌ طَعَامُ مِسْكِينٍ فَمَنْ تَطَوَّعَ خَيْرًا فَهُوَ خَيْرٌ لَهُ وَأَنْ تَصُومُوا خَيْرٌ لَكُمْ إِنْ كُنْتُمْ تَعْلَمُونَ

Terjemahan: "Wahai orang-orang yang beriman! Diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa. (Yaitu) beberapa hari tertentu. Maka barangsiapa di antara kamu sakit atau dalam perjalanan (lalu tidak berpuasa), maka (wajib mengganti) sebanyak hari yang ditinggalkannya itu pada hari-hari yang lain. Dan bagi orang yang berat menjalankannya, wajib membayar fidyah, yaitu memberi makan seorang miskin. Tetapi barangsiapa dengan kerelaan hati mengerjakan kebajikan, maka itu lebih baik baginya, dan puasamu itu lebih baik bagimu jika kamu mengetahui." (QS. Al-Baqarah: 183-184)

Selanjutnya, rukun puasa merupakan pilar esensial yang menentukan sah atau tidaknya ibadah tersebut di hadapan hukum formal. Rukun yang paling utama adalah niat yang tulus karena Allah dan *al-imsak* (menahan diri) dari segala hal yang membatalkan puasa sejak terbit fajar hingga terbenam matahari. Madzhab Syafi'i menekankan pentingnya *tabyit* atau menetapkan niat di malam hari untuk puasa wajib, sementara madzhab lain memiliki kelonggaran dalam kondisi tertentu. Perbedaan ijtihad ini justru memperkaya khazanah intelektual Islam dan memberikan ruang kemudahan bagi umat dalam situasi yang beragam.

Keagungan puasa juga terletak pada nilai rahasia antara hamba dan Tuhannya, di mana tidak ada yang mengetahui kebenaran puasa seseorang kecuali Allah semata. Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam dalam sebuah hadits qudsi menjelaskan betapa istimewanya kedudukan orang yang berpuasa di mata Allah. Puasa dipandang sebagai ibadah yang sangat privat dan memiliki ganjaran yang tak terhingga, melampaui perhitungan matematis amal kebaikan lainnya. Berikut adalah penegasan mengenai kemuliaan tersebut dalam lisan nubuwah:

كُلُّ عَمَلِ ابْنِ آدَمَ يُضَاعَفُ الْحَسَنَةُ عَشْرُ أَمْثَالِهَا إِلَى سَبْعمِائَةِ ضِعْفٍ قَالَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ إِلَّا الصَّوْمَ فَإِنَّهُ لِي وَأَنَا أَجْزِي بِهِ يَدَعُ شَهْوَتَهُ وَطَعَامَهُ مِنْ أَجْلِي لِلصَّائِمِ فَرْحَتَانِ فَرْحَةٌ عِنْدَ فِطْرِهِ وَفَرْحَةٌ عِنْدَ لِقَاءِ رَبِّهِ وَلَخُلُوفُ فَمِ الصَّائِمِ أَطْيَبُ عِنْدَ اللَّهِ مِنْ رِيحِ الْمِسْكِ

Terjemahan: "Setiap amal anak Adam dilipatgandakan pahalanya, satu kebaikan dibalas sepuluh kali lipat sampai tujuh ratus kali lipat. Allah 'Azza wa Jalla berfirman: 'Kecuali puasa, karena sesungguhnya puasa itu adalah untuk-Ku dan Aku sendiri yang akan membalasnya. Ia meninggalkan syahwat dan makanannya demi Aku.' Bagi orang yang berpuasa ada dua kegembiraan: kegembiraan ketika berbuka dan kegembiraan ketika bertemu Tuhannya. Dan sungguh, bau mulut orang yang berpuasa lebih harum di sisi Allah daripada aroma minyak kasturi." (HR. Muslim)

Lebih jauh lagi, puasa memiliki kaitan erat dengan turunnya mukjizat terbesar umat Islam, yakni Al-Qur'anul Karim. Bulan Ramadhan dipilih sebagai waktu puasa karena pada bulan inilah petunjuk bagi manusia diturunkan sebagai pembeda antara yang hak dan yang batil. Kesadaran akan hubungan antara puasa dan Al-Qur'an seharusnya memotivasi setiap Muslim untuk tidak hanya menahan lapar, tetapi juga memperbanyak interaksi dengan kalam Ilahi. Hal ini ditegaskan Allah dalam ayat yang memerintahkan penyempurn

Sumber: Muslimchannel

https://muslimchannel.id/post/dialektika-fiqih-shiyam-bedah-komprehensif-syarat-dan-rukun-puasa-dalam-perspektif-empat-madzhab-besar-2