PORTAL7.CO.ID - Dalam arsitektur spiritual Islam, hati merupakan episentrum yang mengendalikan seluruh gerak fisik dan orientasi eksistensial manusia. Niat bukan sekadar lintasan pikiran yang muncul saat memulai sebuah perbuatan, melainkan sebuah komitmen ontologis yang menghubungkan hamba dengan Sang Khalik. Tanpa niat yang benar, sebuah amal yang terlihat agung di mata manusia bisa menjadi debu yang beterbangan di hadapan Allah. Oleh karena itu, memahami hakikat niat adalah langkah perdana bagi setiap mukmin yang mendambakan perjumpaan yang mulia dengan Rabb-nya.
Urgensi niat ini ditegaskan secara otoritatif oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam sebuah hadis yang menjadi fondasi seluruh hukum Islam. Hadis yang diriwayatkan oleh Amirul Mukminin Umar bin al-Khattab ini menjadi pembuka dalam hampir seluruh kitab standar hadis, menunjukkan bahwa setiap ilmu dan amal harus diawali dengan penyucian motivasi batin. Berikut adalah teks lengkap hadis monumental tersebut:
عَنْ أَمِيْرِ الْمُؤْمِنِيْنَ أَبِيْ حَفْصٍ عُمَرَ بْنِ الْخَطَّابِ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ: سَمِعْتُ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُوْلُ: إِنَّمَا الْأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ، وَإِنَّمَا لِكُلِّ امْرِئٍ مَا نَوَى، فَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ إِلَى اللهِ وَرَسُوْلِهِ فَهِجْرَتُهُ إِلَى اللهِ وَرَسُوْلِهِ، وَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ لِدُنْيَا يُصِيْبُهَا أَوِ امْرَأَةٍ يَنْكِحُهَا فَهِجْرَتُهُ إِلَى مَا هَاجَرَ إِلَيْهِ.
Terjemahan: Dari Amirul Mukminin, Abi Hafs Umar bin al-Khattab radhiyallahu 'anhu, dia berkata, "Aku mendengar Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda: Sesungguhnya setiap perbuatan tergantung niatnya. Dan sesungguhnya setiap orang (akan dibalas) berdasarkan apa yang dia niatkan. Siapa yang hijrahnya karena (ingin mendapatkan keridhaan) Allah dan Rasul-Nya, maka hijrahnya kepada Allah dan Rasul-Nya. Dan siapa yang hijrahnya karena dunia yang dikehendakinya atau karena wanita yang ingin dinikahinya, maka hijrahnya akan bernilai sesuai dengan tujuan hijrahnya tersebut." (HR. Bukhari dan Muslim)
Keikhlasan dalam niat adalah syarat mutlak diterimanya penghambaan, sebagaimana ditegaskan dalam Al-Qur'an bahwa manusia tidak diperintahkan melainkan untuk memurnikan ketaatan hanya kepada Allah. Kemurnian ini menuntut seorang hamba untuk melepaskan diri dari jerat riya, sum'ah, dan kepentingan duniawi yang fana. Ketika niat telah terkontaminasi oleh syahwat tersembunyi untuk dipuji manusia, maka nilai transendental dari amal tersebut akan sirna, menyisakan kelelahan fisik tanpa bobot spiritual di timbangan akhirat.
وَمَا أُمِرُوا إِلَّا لِيَعْبُدُوا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ حُنَفَاءَ وَيُقِيمُوا الصَّلَاةَ وَيُؤْتُوا الزَّكَاةَ ۚ وَذَٰلِكَ دِينُ الْقَيِّمَةِ
Terjemahan: Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama yang lurus, dan supaya mereka mendirikan shalat dan menunaikan zakat; dan yang demikian itulah agama yang lurus. (QS. Al-Bayyinah: 5)
Untuk menjaga stabilitas niat di tengah badai godaan dunia, seorang mukmin harus senantiasa melakukan *muhasabah* atau introspeksi diri secara berkelanjutan. Hati manusia bersifat *taqallub* (berbolak-balik), sehingga doa memohon keteguhan iman menjadi sangat krusial. Rasulullah sendiri sering memanjatkan doa agar hatinya tetap terpaku pada ketaatan, karena beliau menyadari bahwa tanpa pertolongan Allah, niat yang tulus sangat mudah tergelincir oleh bisikan setan dan ego pribadi.
يَا مُقَلِّبَ الْقُلُوبِ ثَبِّتْ قَلْبِي عَلَى دِينِكَ ، قَالَتْ : فَقُلْتُ : يَا رَسSumber: Muslimchannel
https://muslimchannel.id/post/hakikat-niat-sebagai-poros-amal-analisis-komprehensif-hadis-pertama-dalam-arbain-nawawiyah