PORTAL7.CO.ID - Dalam arsitektur peradaban Islam, ekonomi bukan sekadar instrumen pertukaran materi, melainkan manifestasi dari ketaatan hamba kepada Sang Khaliq. Islam memandang harta sebagai amanah yang harus dikelola dengan prinsip keadilan, transparansi, dan kemaslahatan bersama. Salah satu pilar utama dalam menjaga kesucian transaksi ekonomi adalah pelarangan riba secara mutlak, karena ia dianggap sebagai parasit yang merusak tatanan sosial dan spiritual masyarakat.
Larangan ini ditegaskan oleh Allah SWT dalam Al-Qur'an dengan peringatan yang sangat keras, menggambarkan betapa buruknya dampak riba bagi kondisi kejiwaan dan sosial pelakunya. Allah SWT berfirman dalam Surah Al-Baqarah ayat 275:
الَّذِينَ يَأْكُلُونَ الرِّبَا لَا يَقُومُونَ إِلَّا كَمَا يَقُومُ الَّذِي يَتَخَبَّطُهُ الشَّيْطَانُ مِنَ الْمَسِّ ۚ ذَٰلِكَ بِأَنَّهُمْ قَالُوا إِنَّمَا الْبَيْعُ مِثْلُ الرِّبَا ۗ وَأَحَلَّ اللَّهُ الْبَيْعَ وَحَرَّمَ الرِّبَا ۚ فَمَنْ جَاءَهُ مَوْعِظَةٌ مِنْ رَبِّهِ فَانْتَهَىٰ فَلَهُ مَا سَلَفَ وَأَمْرُهُ إِلَى اللَّهِ ۖ وَمَنْ عَادَ فَأُولَٰئِكَ أَصْحَابُ النَّارُ ۖ هُمْ فِيهَا خَالِدُونَ
Terjemahan: "Orang-orang yang memakan riba tidak dapat berdiri melainkan seperti berdirinya orang yang kemasukan setan karena gila. Yang demikian itu karena mereka berkata bahwa jual beli itu sama dengan riba. Padahal Allah telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba. Barangsiapa mendapat peringatan dari Tuhannya, lalu dia berhenti, maka apa yang telah diperolehnya dahulu menjadi miliknya dan urusannya (terserah) kepada Allah. Barangsiapa mengulangi, maka mereka itu penghuni neraka, mereka kekal di dalamnya." (QS. Al-Baqarah: 275)
Islam tidak hanya melarang, tetapi juga memberikan peringatan bahwa praktik riba merupakan bentuk pembangkangan yang nyata terhadap otoritas ketuhanan. Ancaman bagi mereka yang bersikeras menjalankan praktik ribawi bukan sekadar sanksi sosial, melainkan pernyataan perang dari Allah dan Rasul-Nya. Hal ini menunjukkan bahwa stabilitas ekonomi sebuah bangsa sangat bergantung pada sejauh mana nilai-nilai keadilan ditegakkan dalam setiap transaksi keuangan.
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَذَرُوا مَا بَقِيَ مِنَ الرِّبَا إِنْ كُنْتُمْ مُؤْمِنِينَ فَإِنْ لَمْ تَفْعَلُوا فَأْذَنُوا بِحَرْبٍ مِنَ اللَّهِ وَرَسُولِهِ ۖ وَإِنْ تُبْتُمْ فَلَكُمْ رُءُوسُ أَمْوَالِكُمْ لَا تَظْلِمُونَ وَلَا تُظْلَمُونَ
Terjemahan: "Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kepada Allah dan tinggalkanlah sisa riba (yang belum dipungut) jika kamu orang beriman. Jika kamu tidak melaksanakannya, maka umumkanlah perang dari Allah dan Rasul-Nya. Tetapi jika kamu bertobat, maka kamu berhak atas pokok hartamu. Kamu tidak berbuat zalim (merugikan) dan tidak dizalimi (dirugikan)." (QS. Al-Baqarah: 278-279)
Rasulullah SAW juga telah memasukkan riba ke dalam kategori dosa besar yang membinasakan, setara dengan syirik dan sihir dalam konteks dampak kerusakannya. Kesadaran akan bahaya ini seharusnya menjadi alarm bagi setiap Muslim untuk lebih berhati-hati dalam memilih instrumen keuangan di era kontemporer. Memahami literasi keuangan syariah bukan lagi sekadar pilihan, melainkan kebutuhan darurat untuk menyelamatkan keberkahan harta keluarga kita.
اجْتَنِبُوا السَّبْعَ الْمُوبِقَاتِ قَالُوا يَا رَسُولَ اللَّهِ وَمَا هُنَّ قَالَ الشِّرْكُ بِاللَّهِ وَالسِّحرُ وَقَتْلُ النَّفْسِ الَّتِي حَرَّمَ اللَّهُ إِلَّا بِالْحَقِّ وَأَكْلُ الرِّبَا وَأَكْلُ مَالِ الْيَتِيمِ وَالتَّوَلِّي يَوْمَ الزَّحْفِ وَقَذْفُ الْمُحْصَنَاتِ الْمُؤْمِنَاتِ الْغَافِلَاتِ
Terjemahan: "Jauhilah tujuh perkara yang membinasakan. Para sahabat bertanya: 'Wahai Rasulullah, apa saja itu?' Beliau bersabda: 'Syirik kepada Allah, sihir, membunuh jiwa yang diharamkan Allah kecuali dengan alasan yang benar, memakan riba, memakan harta anak yatim, melarikan diri dari medan perang, dan menuduh zina wanita mukminah yang suci dan lengah'." (HR. Bukhari no. 2766 dan Muslim no. 89)
Langkah awal untuk membersihkan harta adalah dengan melakukan tobat nasuha dan berkomitmen untuk tidak lagi bersentuhan dengan transaksi ribawi. Allah SWT senantiasa membuka pintu rahmat bagi hamba-Nya yang ingin kembali ke jalan yang benar dan berusaha mencari rezeki yang thoyyib. Keberkahan harta tidak diukur dari jumlah digit yang tertera di saldo, melainkan dari ketenangan hati dan kemudahan dalam beribadah yang dihasilkan dari harta yang suci.
Semoga Allah SWT senantiasa membimbing kita semua agar terhindar dari jeratan riba yang membinasakan. Kita memohon kekuatan agar mampu membangun ekonomi umat yang mandiri, adil, dan penuh berkah di bawah naungan syariat-Nya. Ya Allah, cukupkanlah kami dengan rezeki-Mu yang halal agar kami terhindar dari yang haram, dan kayakanlah kami dengan karunia-Mu sehingga kami tidak bergantung kepada selain-Mu. Aamiin Ya Rabbal 'Alamin.