PORTAL7.CO.ID - Dalam khazanah intelektual Islam, Hadits Jibril menempati posisi yang sangat fundamental, bahkan para ulama menjulukinya sebagai *Ummus Sunnah* atau induk dari segala sunnah. Hadits ini bukan sekadar narasi pertemuan antara Rasulullah SAW dengan malaikat, melainkan sebuah cetak biru kurikulum pendidikan agama yang sangat sistematis dan komprehensif. Melalui dialog yang terjadi, kita diajak untuk memahami bahwa keberagamaan bukan hanya soal rutinitas fisik, melainkan sebuah perjalanan transformatif yang melibatkan dimensi lahiriah, intelektual, hingga kesadaran transendental yang paling dalam.

Kehadiran Malaikat Jibril dalam wujud manusia yang sangat rapi—berpakaian putih bersih dan berambut hitam legam—memberikan pelajaran pertama yang krusial tentang adab menuntut ilmu. Hal ini menegaskan bahwa kebersihan fisik dan kerapian penampilan adalah manifestasi dari kesiapan jiwa dalam menerima pancaran wahyu serta penghormatan terhadap majelis ilmu. Berikut adalah potongan awal dari hadits agung tersebut yang diriwayatkan oleh Imam Muslim:

عَنْ عُمَرَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ أَيْضاً قَالَ: بَيْنَمَا نَحْنُ جُلُوْسٌ عِنْدَ رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ذَاتَ يَوْمٍ إِذْ طَلَعَ عَلَيْنَا رَجُلٌ شَدِيْدُ بَيَاضِ الثِّيَابِ شَدِيْدُ سَوَادِ الشَّعْرِ، لاَ يُرَى عَلَيْهِ أَثَرُ السَّفَرِ، وَلاَ يَعْرِفُهُ مِنَّا أَحَدٌ، حَتَّى جَلَسَ إِلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، فَأَسْنَدَ رُكْبَتَيْهِ إِلَى رُكْبَتَيْهِ، وَوَضَعَ كَفَّيْهِ عَلَى فَخِذَيْهِ وَقَالَ: يَا مُحَمَّدُ أَخْبِرْنِي عَنِ الإِسْلاَمِ، فَقَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: الإِسْلاَمُ أَنْ تَشْهَدَ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا رَسُوْلُ اللهِ، وَتُقِيْمَ الصَّلاَةَ، وَتُؤْتِيَ الزَّكَاةَ، وَتَصُوْمَ رَمَضَانَ، وَتَحُجَّ الْبَيْتَ إِنِ اسْتَطَعْتَ إِلَيْهِ سَبِيْلاً. قَالَ: صَدَقْتَ.

Terjemahan: Dari Umar radhiyallahu 'anhu juga, dia berkata: "Ketika kami tengah duduk di sisi Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam pada suatu hari, tiba-tiba muncul di hadapan kami seorang laki-laki yang berpakaian sangat putih, berambut sangat hitam, tidak terlihat padanya bekas-bekas perjalanan jauh, dan tidak ada seorang pun di antara kami yang mengenalnya. Hingga ia duduk di hadapan Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam, lalu menyandarkan kedua lututnya ke lutut beliau, dan meletakkan kedua telapak tangannya di atas paha beliau, seraya berkata: 'Wahai Muhammad, beritahukanlah kepadaku tentang Islam.' Maka Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda: 'Islam adalah engkau bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang berhak disembah selain Allah dan Muhammad adalah utusan Allah, menegakkan shalat, menunaikan zakat, berpuasa Ramadhan, dan menunaikan haji ke Baitullah jika engkau mampu mengadakan perjalanan ke sana.' Lelaki itu berkata: 'Engkau benar.'" (HR. Muslim No. 8)

Kesempurnaan agama ini telah dinyatakan oleh Allah SWT dalam Al-Qur'an sebagai anugerah terbesar bagi umat manusia. Tanpa pemahaman yang utuh mengenai integrasi antara syariat (Islam) dan akidah (Iman), seseorang akan terjebak dalam formalitas kering tanpa makna. Oleh karena itu, Allah menegaskan bahwa Islam adalah satu-satunya sistem kehidupan yang diridhai-Nya, sebagaimana firman-Nya dalam Surah Al-Ma'idah:

الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِي وَرَضِيتُ لَكُمُ الْإِسْلَامَ دِينًا ۚ فَمَنِ اضْطُرَّ فِي مَخْمَصَةٍ غَيْرَ مُتَجَانِفٍ لِّإِثْمٍ ۙ فَإِنَّ اللَّهَ غَفُورٌ رَّحِيمٌ

Terjemahan: "Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu jadi agama bagimu. Maka barangsiapa terpaksa karena kelaparan tanpa sengaja berbuat dosa, sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang." (QS. Al-Ma'idah: 3)

Pentingnya mencapai derajat Ihsan ini ditekankan berkali-kali dalam Al-Qur'an, karena Ihsan adalah bukti kecintaan seorang hamba kepada Penciptanya. Allah tidak hanya memerintahkan kita untuk sekadar berbuat baik, tetapi untuk mencapai standar kebaikan yang paling tinggi dalam segala aspek kehidupan. Hal ini selaras dengan perintah Allah untuk berbuat ihsan dalam firman-Nya:

وَأَنفِقُوا فِي سَبِيلِ اللَّهِ وَلَا تُلْقُوا بِأَيْدِيكُمْ إِلَى التَّهْلُكَةِ ۛ وَأَحْسِنُوا ۛ إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْمُحْسِنِينَ

Terjemahan: "Dan belanjakanlah (harta bendamu) di jalan Allah, dan janganlah kamu menjatuhkan dirimu sendiri ke dalam kebinasaan, dan berbuat baiklah (ihsanlah), karena sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berbuat baik (muhsinin)." (QS. Al-Baqarah: 195)

Keterkaitan antara aspek lahiriah dan batiniah ini dijelaskan secara eksplisit oleh Rasulullah SAW dalam sebuah hadits panjang mengenai pentingnya menjaga hati. Hati adalah pusat kendali dari seluruh arsitektur keimanan yang telah diajarkan oleh Jibril. Berikut adalah sabda Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam mengenai pentingnya integritas hati tersebut:

أَلَا وَإِنَّ فِي الْجَسَدِ مُضْغَةً إِذَا صَلَحَتْ صَلَحَ الْجَسَدُ كُلُّهُ وَإِذَا فَسَدَتْ فَسَدَ الْجَسَدُ كُلُّهُ أَلَا وَهِيَ الْقَلْبُ

Terjemahan: "Ketahuilah bahwa di dalam tubuh itu ada segumpal daging, jika ia baik maka baik pula seluruh tubuhnya, dan jika ia rusak maka rusak pula seluruh tubuhnya. Ketahuilah bahwa segumpal daging itu adalah hati." (HR. Al-Bukhari No. 52 dan Muslim No. 1599)