Aku selalu percaya bahwa kesempurnaan adalah satu-satunya jalan menuju pengakuan. Sebagai arsitek muda yang haus akan pembuktian, proyek ‘Pusat Komunitas Harapan’ adalah kanvas pertamaku, sebuah janji yang kubuat pada diriku sendiri untuk membangun sesuatu yang tak bercela. Setiap detail, dari pondasi hingga atap, harus mencerminkan ambisi yang membara di dada ini.
Namun, ambisi yang terlalu panas seringkali membakar dirinya sendiri. Tepat di minggu terakhir pengerjaan, fondasi yang kuanggap kokoh itu retak, lalu runtuh, meninggalkan debu dan keheningan yang memekakkan telinga. Dalam sekejap, karya terbaikku berubah menjadi tumpukan puing, simbol nyata dari keangkuhan yang selama ini kusimpan.
Malam-malam berikutnya kuhabiskan dalam kegelapan, menyalahkan cuaca, menyalahkan kontraktor, menyalahkan siapa pun kecuali diriku sendiri. Rasa malu itu terasa seperti beban beton yang menindih dada, membuatku enggan melihat matahari terbit. Aku merasa karierku berakhir bahkan sebelum sempat benar-benar dimulai.
Di tengah keputusasaan itu, Ibu Tua Ranti, seorang pengrajin yang seharusnya menjadi penghuni pusat komunitas itu, mendatangiku. Ia tidak membawa amarah atau tuntutan, hanya senyum tipis dan sepasang mata yang penuh pengertian. Ia berujar, bahwa bangunan yang paling indah pun pernah menjadi tumpukan material yang berantakan.
Perkataannya menusuk tepat di ulu hati, memaksaku merenungi kembali setiap keputusan yang kuambil. Aku ingat bagaimana aku menepis saran insinyur senior, bagaimana aku memilih material berdasarkan estetika, bukan ketahanan, hanya karena aku ingin membuktikan bahwa visiku adalah yang paling benar. Aku terlalu sibuk membangun citra, hingga lupa membangun fondasi.
Momen itu adalah titik balik yang mengubah segalanya. Kegagalan besar ini ternyata adalah babak paling krusial dalam Novel kehidupan yang sedang kutulis. Aku menyadari bahwa kedewasaan bukanlah tentang menghindari kesalahan, melainkan tentang kemampuan untuk mengakui, menerima, dan memperbaiki puing-puing yang kita ciptakan.
Aku memutuskan untuk tidak lari. Keesokan harinya, aku berdiri di hadapan warga komunitas, tidak sebagai arsitek yang sukses, tetapi sebagai manusia yang telah gagal. Dengan suara bergetar, aku meminta maaf dan berjanji akan menggunakan setiap rupiah yang tersisa, ditambah tabunganku, untuk membangun kembali, kali ini dengan kerendahan hati sebagai fondasi utamanya.
Reaksi mereka sungguh di luar dugaan; tidak ada caci maki, hanya tepukan di bahu dan tatapan haru. Mereka tidak melihat kegagalan, mereka melihat kejujuran yang langka. Mereka mengajarkanku bahwa kadang-kadang, kerentanan adalah bentuk kekuatan yang paling murni.
Kini, proyek itu berdiri kembali, lebih sederhana namun jauh lebih kuat. Aku belajar bahwa luka yang paling dalam seringkali meninggalkan bekas yang paling indah, menjadi pengingat abadi bahwa menjadi dewasa berarti menerima diri yang tidak sempurna, dan terus berjuang walau harus mulai dari nol. Namun, apakah aku benar-benar siap menghadapi tantangan berikutnya, ketika taruhannya bukan lagi sekadar bangunan, melainkan hati seseorang yang baru saja hadir dalam hidupku?
