Dulu, duniaku adalah gelembung kaca yang indah, penuh tawa renyah dan kenyamanan yang tidak pernah dipertanyakan. Aku menjalani hari-hari tanpa beban, yakin bahwa jaring pengaman bernama ‘keluarga’ akan selalu ada di bawahku. Aku adalah Risa yang hanya tahu cara bermimpi, bukan cara bertahan.
Namun, gelembung itu pecah tanpa peringatan, meninggalkan pecahan tajam yang harus kurangkai kembali. Kabar buruk itu datang seperti badai di tengah musim kemarau: Ayah sakit keras, dan bisnis yang selama ini menopang kami runtuh dalam hitungan minggu. Tiba-tiba, aku yang paling tua, harus menggantikan posisi Ayah di meja yang penuh dokumen, utang, dan tatapan mata penuh harap.
Kepalaku terasa berat, dipenuhi angka-angka yang asing dan janji-janji yang harus kutepati. Aku harus berhadapan dengan para kreditor yang wajahnya keras, dan aku harus belajar menawar waktu, padahal sebelumnya aku hanya menawar diskon pakaian. Ketakutan itu nyata, menusuk hingga ke ulu hati, membuatku sering menangis diam-diam di balik pintu kamar.
Ada momen ketika aku ingin menyerah, kembali menjadi Risa yang hanya peduli pada jadwal kuliah dan kopi dingin. Aku merindukan masa ketika masalah terbesar adalah nilai ujian yang jelek, bukan bagaimana membayar biaya rumah sakit bulan depan. Tapi, melihat wajah Ibu yang rapuh dan adik-adik yang bergantung padaku, aku tahu, melarikan diri bukan lagi pilihan.
Aku mulai membaca buku-buku akuntansi yang tebal, belajar berbicara dengan nada otoritas yang kupaksakan, dan yang terpenting, aku belajar menelan harga diri. Aku harus meminta bantuan, harus mengakui kelemahan, dan harus menerima bahwa tidak semua orang akan bersimpati pada kesulitan kami. Pengalaman itu memaksaku melihat realitas hidup yang kejam, namun juga jujur.
Aku menyadari, semua kesulitan ini adalah babak penting dalam sebuah skenario besar. Inilah sketsa kasar dari sebuah proses pendewasaan yang seringkali menyakitkan, namun mutlak diperlukan. Aku mulai memahami bahwa kesulitan yang kualami ini adalah lembaran paling intens dalam Novel kehidupan yang sedang kutulis.
Di tengah badai itu, aku menemukan kekuatan yang tidak pernah kuduga kumiliki. Kekuatan untuk bangun setiap pagi, membersihkan air mata, dan mengenakan topeng keberanian. Aku belajar bahwa menjadi dewasa bukanlah tentang usia, melainkan tentang seberapa cepat kita mampu berdiri tegak setelah terjatuh, sambil tetap memegang harapan.
Risa yang dulu manja kini telah digantikan oleh Risa yang tangguh; seorang negosiator ulung, pengelola keuangan darurat, dan yang paling utama, seorang putri yang bangga menjadi pilar. Puing-puing reruntuhan itu tidak menghancurkanku; justru, puing-puing itulah yang menjadi fondasi tempat aku membangun diriku yang baru.
Lalu, di suatu sore yang tenang, setelah semua badai berlalu, aku menatap langit. Kedewasaan memang mahal harganya, dibayar dengan air mata dan kehilangan, namun ia memberikan hadiah tak ternilai: kemampuan untuk menghadapi masa depan, apa pun bentuknya. Tapi, apakah aku benar-benar sudah siap menghadapi babak selanjutnya?