Dulu, aku pikir hidup ini hanyalah serangkaian babak yang sudah tertulis rapi, sebuah lintasan mulus menuju puncak yang telah kurencanakan. Aku memandang ke cakrawala kota dari jendela kamar kos, yakin bahwa tiket keberhasilanku sudah di tangan. Angin malam yang dingin selalu terasa seperti janji, bukan peringatan.

Kenyataan datang dalam bentuk email singkat yang membatalkan semua mimpi yang telah kurajut selama bertahun-tahun. Bukan karena kurangnya kemampuan, melainkan karena kebodohan sepele—salah perhitungan dalam tenggat waktu pengajuan dana proyek. Kegagalan itu merenggut bukan hanya kesempatan, tetapi juga harga diriku.

Rasa bersalah itu menghantam lebih keras daripada penolakan itu sendiri, terutama saat aku harus menghadapi mata Ayah. Beliau tidak marah, tetapi kekecewaan yang tersimpan dalam tatapannya jauh lebih menyakitkan daripada seribu makian. Aku merasa telah menghancurkan harapan yang dibangun di atas pengorbanan mereka.

Aku mengunci diri, membiarkan kegelapan merayap masuk dan mempertanyakan seluruh eksistensiku. Semua nasihat dan dukungan terasa hampa, dan aku merasa seperti seorang pemalsu yang menjanjikan cahaya namun hanya membawa badai. Masa depan yang tadinya berkilauan kini terasa kelabu, sunyi, dan tanpa arah.

Suatu sore, Ibu meletakkan secangkir teh di meja dan berkata, "Kegagalan bukan akhir cerita, Nak. Itu hanya halaman yang terlipat." Kalimat sederhana itu membukakan mataku. Aku menyadari bahwa apa yang kualami ini adalah bagian paling krusial dari Novel kehidupan yang sedang kutulis—babak tentang pertanggungjawaban diri dan penerimaan.

Aku membuang proposal-proposal lama yang penuh ambisi kosong dan mencari pekerjaan paruh waktu, apa pun yang bisa menghasilkan. Tangan yang terbiasa memegang pena kini harus terbiasa mengangkat kotak dan melayani pelanggan. Kelelahan fisik yang kurasakan setiap malam menjadi pengalih yang efektif dari rasa sakit emosional.

Di balik seragam kerja yang lusuh, aku menemukan sesuatu yang jauh lebih berharga daripada gelar yang kuimpikan: kerendahan hati. Aku belajar menghargai setiap rupiah yang diperoleh dengan keringat, memahami perjuangan orang-orang biasa, dan menyadari bahwa kesuksesan sejati tidak diukur dari seberapa tinggi kau terbang, tetapi seberapa kuat kau bangkit setelah jatuh.

Hubunganku dengan Ayah membaik tanpa perlu banyak kata. Kami tidak lagi membahas beasiswa yang hilang, melainkan rencana masa depan yang realistis dan dibangun dari nol, bata demi bata. Kedewasaan ternyata bukan tentang mencapai target, melainkan tentang menerima proses yang menyakitkan dengan lapang dada.

Pengalaman pahit itu adalah guru terbaik yang pernah ada. Ia merenggut kepolosanku, tetapi menggantinya dengan ketajaman pandangan dan hati yang lebih tebal. Kini, setiap kali aku menatap cakrawala, aku tahu bahwa badai pasti akan datang lagi, namun aku siap menyambutnya, karena aku sudah tahu cara menari di tengah hujan, dan cerita ini, baru saja dimulai.