Aku selalu percaya bahwa hidup adalah garis lurus yang menanjak, di mana setiap usaha keras pasti berujung pada puncak yang gemilang. Keyakinan naif itu membuatku melangkah penuh percaya diri saat aku mendapatkan proyek pertamaku yang besar: merancang pusat komunitas di jantung kota. Aku melihat diriku sebagai arsitek muda yang akan mengubah lanskap, tanpa menyadari bahwa pondasi terpenting bukanlah beton, melainkan kerendahan hati.

Proyek itu, yang kuberi nama “Oasis Harapan,” adalah segalanya bagiku; sebuah manifestasi ambisi yang membakar. Aku mengabaikan peringatan dari senior tentang birokrasi yang rumit dan dinamika lapangan yang kejam, yakin bahwa ide brilianku akan menembus semua rintangan. Aku terlalu sibuk membayangkan upacara peresmian, bukan detail-detail kecil yang bisa meruntuhkan segalanya.

Namun, realitas datang menghantam sekeras palu godam. Masalah anggaran muncul, kontraktor bermain curang, dan perubahan regulasi mendadak membuat desainku menjadi tidak relevan. Dalam hitungan bulan, Oasis Harapan yang seharusnya menjadi mercusuar, berubah menjadi tumpukan puing-puing yang ditinggalkan, menyisakan lubang besar di tanah dan lubang yang jauh lebih besar di dadaku.

Rasa malu itu melumpuhkan; aku mengunci diri selama berminggu-minggu, menolak panggilan dan menatap langit-langit kamar yang terasa mencekik. Aku merasa seperti seorang penipu ulung yang akhirnya tertangkap, padahal aku hanya seorang pemimpi yang terlalu angkuh untuk mengakui batas kemampuannya. Kegagalan itu terasa seperti penghakiman publik atas seluruh potensi yang kubanggakan.

Saat itulah aku mulai membaca ulang diriku sendiri, lembar demi lembar. Aku menyadari bahwa aku hanya mencintai ide kesuksesan, bukan prosesnya yang berdarah-darah dan penuh kompromi. Aku harus jujur: aku tidak gagal karena dunia kejam, tapi karena aku belum siap dan terlalu cepat merasa hebat.

Perlahan, aku bangkit dan memberanikan diri kembali ke lokasi proyek yang terbengkalai itu, merasakan dinginnya debu di bawah kakiku. Di sana, di tengah reruntuhan, aku menemukan inti dari apa yang disebut orang sebagai kedewasaan. Aku menyadari bahwa setiap babak sulit adalah bagian vital dari Novel kehidupan yang harus kutulis sendiri, dan babak ini adalah tentang menerima kekalahan tanpa kehilangan semangat.

Aku mulai dari nol, mengambil proyek-proyek kecil yang tidak bergengsi, fokus pada presisi dan komunikasi, bukan pada tepuk tangan. Aku belajar mendengarkan kritik tanpa defensif, memahami bahwa keahlian sejati dibangun melalui revisi yang tak terhitung jumlahnya. Setiap sketsa yang kubuat kini memiliki bobot yang berbeda, diisi oleh pengalaman pahit yang berharga.

Kedewasaan ternyata bukan tentang mencapai garis akhir dengan cepat, melainkan tentang bagaimana kita merespons ketika badai datang dan peta yang kita pegang ternyata salah. Ia adalah kemampuan untuk membangun kembali, bahkan ketika kita hanya memiliki sedikit material dan banyak keraguan.

Kini, aku tidak lagi takut pada kegagalan; aku takut pada keengganan untuk mencoba lagi setelah jatuh. Aku mungkin kehilangan proyek impianku, tetapi aku menemukan sesuatu yang jauh lebih berharga: kekuatan untuk menjadi Risa yang lebih jujur, yang memahami bahwa pertumbuhan sejati sering kali dimulai dari kehancuran. Apakah aku sudah siap untuk proyek besar berikutnya? Mungkin belum, tapi setidaknya, kali ini aku membawa bekal yang lebih baik dari sekadar ambisi.