PORTAL7.CO.ID - Harga emas di pasar spot terpantau bergerak menguat pada pembukaan perdagangan Selasa (3/2/2026) seiring memanasnya situasi di Timur Tengah. Berdasarkan data Bloomberg, logam mulia ini naik 0,18 persen atau setara 9,49 poin menuju level US$5.331,61 per troy ounce. Kenaikan tipis ini mencerminkan kewaspadaan investor global terhadap eskalasi konflik militer yang melibatkan negara-negara besar.

Tidak hanya di pasar spot, harga emas berjangka untuk kontrak April 2026 di bursa Comex Amerika Serikat juga melonjak 0,73 persen ke angka US$5.350,6 per troy ounce. Tren positif ini merupakan kelanjutan dari pergerakan hari sebelumnya yang sempat menyentuh level psikologis US$5.400. Meskipun sempat melambat, komoditas ini tetap menjadi primadona di tengah ketidakpastian ekonomi global yang kian meningkat.

Presiden AS Donald Trump menegaskan komitmennya untuk terus menekan Iran tanpa batasan waktu yang pasti terkait operasi militer tersebut. Trump menyatakan bahwa pihaknya siap melanjutkan serangan selama apa pun yang diperlukan demi mencapai tujuan strategis mereka. Pernyataan ini mempertegas posisi Amerika Serikat yang memperkirakan operasi awal akan memakan waktu hingga lima minggu ke depan.

Situasi semakin genting setelah militer Israel mengumumkan serangan udara baru ke jantung kota Teheran dengan sasaran pusat komando intelijen. Langkah agresif ini merupakan balasan atas proyektil yang terus diluncurkan Iran ke wilayah Israel, Arab Saudi, hingga Uni Emirat Arab. Eskalasi ini dipicu oleh tewasnya Pemimpin Tertinggi Ayatollah Ali Khamenei pada akhir pekan lalu yang mengubah peta konflik regional.

Meskipun emas diuntungkan oleh statusnya sebagai aset aman, penguatannya sedikit tertahan oleh potensi pengetatan kebijakan moneter Federal Reserve. Para pelaku pasar mulai mencemaskan lonjakan inflasi yang dipicu oleh melambungnya harga minyak dunia ke level tertinggi dalam empat tahun. Kondisi ini mendorong penguatan dolar AS serta kenaikan imbal hasil obligasi pemerintah yang biasanya menekan daya tarik emas.

Frank Monkam selaku kepala analis makro Buffalo Bayou Commodities berpendapat bahwa reli emas saat ini sedang tertahan oleh antisipasi risiko inflasi. Bank sentral global kemungkinan besar akan dipaksa menaikkan suku bunga untuk meredam tekanan harga yang timbul akibat konflik tersebut. Monkam menekankan bahwa suku bunga tinggi biasanya menjadi sentimen negatif bagi emas karena aset ini tidak memberikan imbal hasil langsung.

Di sisi lain, analis TD Securities tetap optimis bahwa emas akan terus mendapatkan dukungan dari ketidakstabilan geopolitik dan rendahnya selera risiko pasar. Pembelian agresif oleh berbagai bank sentral serta kekhawatiran terhadap pelemahan nilai mata uang menjadi fondasi kuat bagi reli jangka panjang. Ketidakpastian hubungan internasional di era Trump diprediksi akan terus menjaga posisi emas sebagai instrumen lindung nilai utama.

Sumber: Infonasional

https://www.infonasional.com/harga-emas-spot-3-februari-2026