PORTAL7.CO.ID - CEO Honda, Toshihiro Mibe, menyatakan keprihatinan mendalam mengenai posisi kompetitif global perusahaannya setelah melakukan kunjungan ke fasilitas produksi kendaraan listrik (EV) di Tiongkok pada Februari 2026. Kunjungan tersebut mengungkap tingkat otomatisasi dan efisiensi operasional yang ternyata jauh melampaui perkiraan industri otomotif Jepang.
Kunjungan lapangan tersebut menjadi pemicu utama munculnya pesimisme di kalangan internal Honda terkait kemampuan mereka dalam mengejar ketertinggalan teknologi yang signifikan. Menurut informasi yang diterima dari Nikkei Asia pada tanggal 31 Maret, sistem pengadaan suku cadang hingga manajemen logistik di pabrik Tiongkok tersebut telah terintegrasi secara digital sepenuhnya.
Toshihiro Mibe secara terbuka menyampaikan rasa frustrasinya terhadap superioritas manufaktur yang ia saksikan langsung di lapangan. Ia menyatakan, "Kami tidak punya peluang melawan ini," menggarisbawahi jurang pemisah teknologi yang ada saat ini.
Kekhawatiran Mibe berakar pada pemandangan lantai produksi yang hampir steril dari intervensi manusia, di mana sistem cerdas menjalankan hampir seluruh proses operasional. Ia menyoroti bagaimana minimalisasi keterlibatan tenaga kerja manusia telah memaksimalkan efisiensi dalam skala produksi massal.
"Mulai dari pengadaan suku cadang hingga manajemen logistik, semuanya di fasilitas itu sudah otomatis, dan tidak ada manusia di lantai produksi," tambah Mibe, menekankan tingkat otomatisasi yang ekstrem tersebut.
Secara finansial, Honda sedang menghadapi tantangan berat setelah mencatatkan kerugian tahunan pertama kali pada awal Maret 2026. SlashGear memberitakan bahwa perusahaan tersebut membukukan kerugian lebih dari US$15,7 miliar, sebagian besar dipicu oleh perubahan mendadak kebijakan insentif pajak EV di Amerika Serikat pada pertengahan tahun 2025.
Meskipun menghadapi kondisi pasar yang menantang, pimpinan Honda tersebut menegaskan kembali komitmen jangka panjang perusahaan terhadap upaya pengurangan emisi karbon. Ia memandang pengurangan jejak karbon sebagai misi utama perusahaan di tengah arus transisi energi global yang penuh ketidakpastian.
Dikutip dari forum daring Reddit, salah satu pengguna menunjukkan dukungan terhadap visi elektrifikasi dengan menyatakan, "Kita ingin mobil listrik, dan kalau produksinya bagus, permintaan pasti meningkat. Saya siap membeli mobil listrik. Saya siap mengurangi ketergantungan pada minyak."
Ketidakpuasan konsumen juga terlihat dari pergeseran loyalitas merek karena lambatnya penyediaan unit EV dari produsen mobil konvensional. Beberapa pelanggan dilaporkan mulai beralih ke kompetitor yang dinilai lebih siap dalam menyediakan infrastruktur dan model kendaraan listrik terbaru.