Aku selalu percaya bahwa semangat murni bisa mengatasi segalanya, sebuah idealisme naif yang kubawa saat mendirikan "Jendela Senja," ruang seni komunitas kecil di pinggiran kota. Tempat itu adalah cerminan jiwaku yang penuh warna, sebuah janji bahwa keindahan tidak harus selalu dibayar mahal. Aku merangkul setiap seniman jalanan dan setiap impian yang tertunda, tanpa pernah berpikir tentang fondasi yang rapuh.
Semua berjalan indah di permukaan; tawa dan percikan cat menutupi kenyataan bahwa aku mengabaikan laporan keuangan yang menumpuk. Aku terlalu sibuk menjadi pemimpi sehingga lupa menjadi manajer. Bahkan ketika sahabat terdekatku, yang kupercayai untuk mengurus administrasi, mulai menunjukkan gelagat aneh, aku memilih untuk memejamkan mata.
Krisis itu datang tanpa peringatan, secepat badai yang menghantam atap yang bocor. Uang kas kosong, tagihan menunggak, dan yang paling menyakitkan, aku menemukan bahwa dana yang seharusnya menjadi nafas bagi Jendela Senja telah dialihkan untuk kepentingan pribadi. Dalam sekejap, gema tawa di ruang itu berganti menjadi keheningan yang memekakkan.
Aku ingat malam ketika aku harus menempelkan pengumuman penutupan di pintu kaca yang selalu kubanggakan. Rasanya seperti mematikan denyut nadiku sendiri; rasa malu dan kecewa bercampur menjadi beban tak terangkat. Itu adalah kali pertama aku benar-benar merasakan betapa beratnya konsekuensi dari idealisme yang tidak didasari oleh realitas.
Masa-masa setelah penutupan adalah lembah gelap yang harus kulewati sendirian. Aku bukan lagi Risa yang berapi-api; aku adalah Risa yang patah, yang harus membersihkan sisa-sisa impiannya sendiri. Dalam kesunyian itu, aku menyadari bahwa kedewasaan bukanlah tentang seberapa banyak yang kau raih, melainkan seberapa bertanggung jawab kau atas apa yang kau hancurkan.
Kegagalan ini mengajarkan kepadaku bahwa setiap cerita memiliki babak yang tidak menyenangkan, dan seluruh rangkaian peristiwa ini adalah bagian tak terpisahkan dari Novel kehidupan yang sedang kutulis. Aku harus menerima bahwa aku telah gagal total, bukan karena kurangnya semangat, tetapi karena kurangnya kebijaksanaan dalam menghadapi dunia yang tidak selalu hitam dan putih.
Perlahan, aku mulai bangkit, bukan untuk membangun Jendela Senja yang sama persis, tetapi untuk membangun Risa yang baru. Aku mulai belajar tentang angka, tentang kontrak, dan tentang cara melindungi batasan diri. Kali ini, aku bergerak dengan hati yang lebih waspada dan kaki yang lebih membumi.
Luka-luka yang ditinggalkan oleh pengkhianatan dan kerugian itu tidak hilang, namun ia berubah fungsi. Bekas luka itu kini menjadi kompas, pengingat abadi akan harga yang harus dibayar untuk pelajaran yang paling berharga. Aku menemukan kedamaian dalam penerimaan bahwa kesempurnaan hanyalah ilusi.
Sekarang, aku melihat ke belakang pada puing-puing Jendela Senja dengan rasa syukur yang aneh. Kegagalan itu merobek selaput tipis yang menutupi mataku, memaksa aku melihat dunia dengan kejernihan yang menyakitkan namun membebaskan. Jika bukan karena kehilangan besar itu, mungkin aku akan selamanya terjebak dalam fantasi, tidak pernah menjadi wanita dewasa yang berdiri teguh di atas kakinya sendiri.