Risa selalu percaya bahwa hidupnya adalah garis lurus yang mulus, didominasi oleh nilai sempurna dan pujian. Begitu ia berhasil mengamankan posisi impiannya di sebuah perusahaan konsultan besar, ia merasa berada di puncak dunia, siap membuktikan bahwa ia adalah keajaiban yang mereka tunggu. Keyakinan diri yang begitu tinggi itu, sayangnya, belum teruji oleh badai.
Tantangan besar datang cepat: sebuah proyek ambisius yang melibatkan klien utama perusahaan. Risa dipercaya memimpin tim kecil, sebuah kehormatan yang ia sambut dengan sombong. Ia bekerja siang dan malam, namun ada arogansi halus yang membuatnya mengabaikan nasihat senior tentang risiko dan validasi data.
Saat presentasi tiba, semua yang ia bangun runtuh dalam hitungan menit. Data kunci yang ia yakini valid ternyata memiliki celah fatal, menyebabkan kerugian besar dan hilangnya kepercayaan klien. Ruangan rapat yang tadinya dipenuhi harapan seketika berubah menjadi sunyi mematikan, hanya menyisakan dinginnya kekecewaan yang menusuk ke tulang Risa.
Malam itu, ia pulang bukan sebagai Risa yang percaya diri, melainkan sebagai seonggok kekalahan. Rasa malu dan rasa bersalah membelenggu, membuatnya ingin menghilang dari muka bumi. Ia mulai mempertanyakan seluruh identitasnya; jika ia tidak sempurna, lalu siapakah dirinya? Namun, di tengah jurang keputusasaan itu, ia bertemu dengan Pak Dharma, seorang direktur senior yang terkenal bijaksana. Pak Dharma tidak memarahinya, melainkan hanya menatapnya dengan tatapan yang penuh pengertian. Ia berkata bahwa kegagalan adalah biaya yang harus dibayar untuk pelajaran yang paling berharga.
Risa memutuskan untuk tidak lari. Ia kembali, menghadapi tatapan sinis dan mulai bekerja keras untuk memperbaiki setiap kerusakan yang ia ciptakan. Ia menyadari, kegagalan ini adalah babak terpenting dalam Novel kehidupan yang sedang ia tulis. Ini bukan akhir, melainkan awal dari karakter yang lebih kuat.
Proses pemulihan itu panjang dan menyakitkan, memaksa Risa untuk merangkul kerentanan dan meminta bantuan—hal yang paling ia hindari sebelumnya. Di sana ia belajar bahwa kedewasaan sejati bukanlah tentang menghindari kesalahan, melainkan tentang kemampuan untuk bangkit setelah terjerembab. Ia belajar merangkul realitas bahwa ia adalah manusia, bukan mesin kesempurnaan.
Ketika akhirnya ia berhasil memulihkan sebagian besar kerugian dan mendapatkan kembali sedikit kepercayaan, Risa yang baru telah lahir. Matanya kini memancarkan ketenangan yang berbeda, bukan lagi kilauan arogansi, melainkan cahaya kebijaksanaan yang ditempa oleh api.
Pengalaman itu mengubah Risa selamanya; ia kini tahu bahwa kedewasaan adalah jubah yang ditenun dari benang kegagalan dan kesabaran. Pertanyaannya, apakah ia akan menggunakan pelajaran mahal ini untuk membangun kembali karier yang lebih kokoh, ataukah bayang-bayang kegagalan itu akan selalu membuntutinya, menunggu saat yang tepat untuk meruntuhkannya kembali?