Aku selalu hidup dalam zona yang nyaman, sebuah ruang kaca yang hangat di mana setiap keputusan besar telah dipertimbangkan dengan matang oleh orang lain. Dunia bagiku hanyalah rangkaian teori yang harus dihafal, dan masa depan adalah jalan tol lurus menuju kesuksesan yang telah terjamin. Aku naif, percaya bahwa badai hanyalah cerita di buku-buku.
Namun, hidup memiliki selera humor yang gelap. Ketika Ayah mendadak harus beristirahat total, seluruh beban pengelolaan galeri seni keluarga—yang ternyata sedang di ambang kebangkrutan—jatuh ke pangkuanku. Sesaat, aku merasa seperti boneka yang dilempar ke tengah medan perang tanpa tahu cara memegang senjata.
Malam-malamku berubah menjadi tumpukan laporan keuangan dan tagihan yang menumpuk, jauh dari buku-buku sastra yang biasanya menemaniku. Aku merasakan dinginnya penolakan dari pemasok dan tatapan skeptis dari para karyawan lama yang meragukan kemampuan si anak manja ini. Rasa takut itu nyata, mencekik, dan membuatku ingin melarikan diri kembali ke kamar tidurku yang aman.
Aku melakukan kesalahan fatal di bulan ketiga; sebuah investasi yang ceroboh mengakibatkan kerugian besar. Rasa bersalah itu menusuk, lebih tajam daripada kritik apapun yang pernah kudengar. Aku duduk sendirian di lantai galeri yang sepi, bertanya-tanya mengapa aku harus menanggung semua ini, dan air mata yang jatuh terasa panas membakar harga diriku.
Saat itulah Bu Ratih, kurator senior yang telah bekerja puluhan tahun, datang menghampiri. Ia tidak memberiku solusi, melainkan sebuah cermin. Ia berkata, "Kita semua pernah jatuh, Nak. Bedanya orang dewasa adalah, mereka membersihkan lututnya dan melanjutkan, bukan mencari selimut untuk bersembunyi." Kata-kata itu, diucapkan dengan lembut, menampar kesombonganku yang tersisa.
Aku mulai belajar dari nol, menghabiskan waktu di gudang, memahami setiap serat kanvas, dan mendengarkan keluh kesah para seniman. Aku mengganti jubahku yang serba mewah dengan pakaian kerja yang kusam, fokus pada detail kecil yang sebelumnya luput dari pandanganku. Perlahan, aku mulai melihat cahaya di ujung terowongan yang gelap itu.
Pengalaman ini, dengan segala kepahitan dan kelelahannya, adalah babak paling esensial dalam Novel kehidupan yang sedang kutulis. Aku menyadari bahwa kedewasaan bukanlah tentang usia yang bertambah, melainkan tentang seberapa besar kapasitas kita untuk menanggung konsekuensi dan bangkit kembali tanpa kehilangan empati.
Aku tidak hanya menyelamatkan galeri; aku menyelamatkan diriku sendiri. Aruna yang sekarang adalah Aruna yang pahit, namun juga Aruna yang kuat. Aku belajar bahwa keindahan sejati seringkali ditemukan dalam proses perbaikan yang tak sempurna, bukan pada hasil akhir yang mulus.
Kini, galeri itu berdiri tegak, namun aku tahu, tantangan baru akan selalu menanti di tikungan. Apakah aku siap? Mungkin tidak sepenuhnya, tetapi setidaknya aku tahu satu hal: jiwa yang telah ditempa oleh kesulitan tidak akan pernah bisa dihancurkan. Dan aku menanti, dengan debar di dada, apa lagi yang akan diajarkan oleh semesta kepadaku.