Dulu, aku percaya bahwa hidup adalah garis lurus yang sempurna, di mana usaha keras pasti berbanding lurus dengan hasil yang gemilang. Aku memegang teguh idealisme itu, membangun impian di atas fondasi ekspektasi yang tinggi, yakin bahwa dunia akan berpihak pada mereka yang gigih. Aku adalah pembuat rencana yang tak pernah mengizinkan adanya cacat dalam skenario masa depan.
Saat aku meluncurkan proyek pertamaku, gairah membakar setiap sel. Aku mengira tantangan hanyalah bumbu penyedap, bukan badai yang mampu merobohkan segalanya. Aku terlalu cepat melabeli kegagalan kecil sebagai "ujian", tanpa menyadari bahwa ujian sejati akan datang dalam bentuk kehancuran total.
Badai itu datang tanpa peringatan, berupa krisis yang tak terduga dan pengkhianatan dari orang yang kupercayai. Dalam sekejap, fondasi yang kubangun dengan keringat dan air mata itu runtuh tak bersisa, meninggalkanku di tengah puing-puing kebanggaan dan rekening yang kosong. Rasanya seperti seluruh cahayaku direnggut paksa, menyisakan gelap yang dingin dan sunyi.
Aku menghabiskan waktu berminggu-minggu dalam isolasi, menolak telepon, dan membenci cermin. Aku merasa dikhianati, bukan hanya oleh keadaan, tapi oleh keyakinanku sendiri bahwa kebaikan selalu menang. Kebencian itu adalah selimut tebal yang mematikan, menjebakku dalam siklus penyesalan yang tak berujung.
Titik baliknya datang saat seorang sahabat lama, yang pernah merasakan hal serupa, berkata: "Kedewasaan bukanlah saat kamu berhenti jatuh, Risa. Tapi saat kamu belajar bagaimana bangkit tanpa menyalahkan gravitasi." Kalimat itu menusuk, namun juga melegakan. Aku mulai menyadari bahwa aku tidak harus menjadi sempurna untuk menjadi kuat.
Aku mulai memunguti pecahan-pecahan diriku, satu per satu. Aku melihat kegagalan ini bukan sebagai hukuman, melainkan sebagai babak terberat dari *Novel kehidupan* yang harus kutulis sendiri. Ini adalah kisah di mana aku belajar bahwa keberanian sejati adalah mengakui kelemahan dan meminta bantuan.
Perlahan, aku bangkit, namun kali ini dengan kecepatan yang berbeda. Aku tidak lagi berlari mengejar kesempurnaan, melainkan berjalan dengan penuh kesadaran. Aku belajar merangkul ketidakpastian, memahami bahwa beberapa hal memang berada di luar kendali manusia, dan itu tidak apa-apa.
Wajahku mungkin kini dihiasi garis-garis kelelahan yang tak ada sebelumnya, namun mataku memancarkan cahaya yang lebih dalam—cahaya pemahaman. Aku telah kehilangan idealismeku yang naif, tetapi sebagai gantinya, aku menemukan ketangguhan yang sesungguhnya, yang terbuat dari patahan dan luka.
Aku bukan lagi gadis yang hanya mengharapkan hari cerah, tetapi wanita yang tahu bagaimana menari di bawah guyuran hujan badai. Dan kini, aku berdiri di persimpangan jalan baru, bertanya-tanya, pelajaran pahit apalagi yang akan disajikan oleh semesta di babak selanjutnya.