Aku selalu percaya bahwa kedewasaan diukur dari seberapa tinggi gedung yang berhasil kubangun dan seberapa megah desain yang berhasil kurampungkan. Sebagai seorang arsitek muda, ambisiku membentang sejajar dengan cakrawala Jakarta; aku ingin meninggalkan jejak yang tak terhapuskan di atas kanvas beton itu. Kesombongan adalah pondasiku, dan aku mengira itu adalah kekuatan.
Tiba-tiba, kenyataan menghantamku sekeras palu godam saat proyek impianku, yang telah kurencanakan dengan keangkuhan, runtuh di tengah jalan karena kesalahan perhitungan yang fatal. Aku tidak hanya kehilangan kontrak, tetapi juga seluruh kepercayaan diri yang selama ini kurangkai dengan susah payah. Malam-malam yang sunyi di apartemenku terasa seperti peti mati yang dingin, membuatku menyadari bahwa aku hanyalah sebutir debu yang diterbangkan angin.
Dalam keputusasaan yang mendalam, aku memutuskan untuk melarikan diri, bukan ke negara lain, melainkan ke pelosok desa di kaki gunung, tempat bangunan terbuat dari kayu dan daun rumbia. Di sana, tidak ada kemewahan, tidak ada pujian, hanya ada keheningan dan tatapan mata tulus dari penduduk lokal. Aku yang terbiasa dengan kemudahan teknologi, kini harus belajar menimba air dan membangun fondasi dengan tangan kosong.
Adaptasi adalah siksaan yang lambat. Setiap hari adalah pertarungan melawan ego yang menjerit minta kembali ke zona nyaman. Aku melihat diriku yang lama—cepat, efisien, namun rapuh—berhadapan dengan ritme kehidupan desa yang lambat, sabar, dan tak tergoyahkan oleh hiruk pikuk dunia luar. Mereka membangun rumah bukan untuk dipamerkan, melainkan untuk bertahan hidup.
Suatu sore, aku bertemu dengan Pak Tua, seorang tukang kayu di sana, yang jarinya kasar dan penuh cerita. Ia tidak pernah sekolah arsitektur, tetapi ia tahu cara menyeimbangkan beban hidup dan struktur bangunan. Ia berkata, "Nona, bangunan yang kokoh itu bukan yang tidak pernah retak, tapi yang tahu bagaimana menyerap guncangan tanpa hancur." Perkataan itu menamparku. Aku menyadari bahwa kegagalanku adalah babak penting dalam Novel kehidupan yang harus kujalani, sebuah babak yang mengajarkanku bahwa fondasi hati jauh lebih penting daripada fondasi beton. Kedewasaan bukanlah tentang menghindari kegagalan, melainkan tentang kemampuan untuk bangkit kembali, bahkan ketika semua orang sudah menganggap kita selesai.
Perlahan, aku mulai merangkul kelemahan dan kerentananku. Aku mulai mendesain ulang diriku sendiri, tidak lagi untuk memuaskan mata dunia, tetapi untuk memenuhi kebutuhan jiwa. Aku menemukan kebahagiaan sejati saat membantu membangun balai pertemuan sederhana yang hangat, bukan pencakar langit yang dingin dan angkuh.
Aku mungkin tidak kembali ke kota sebagai arsitek yang sama, tetapi aku kembali sebagai manusia yang berbeda. Aku membawa serta pelajaran bahwa cahaya paling terang seringkali muncul setelah badai tergelap.
Kini, aku berdiri di antara reruntuhan ambisi lamaku dan harapan baruku, menyadari bahwa perjalanan menuju kedewasaan adalah proses tanpa akhir, di mana setiap patahan yang kita alami sejatinya adalah pilar baru yang memperkuat diri kita. Namun, apakah aku benar-benar siap menghadapi godaan gemerlap kota yang pernah hampir menghancurkanku?