PORTAL7.CO.ID - Pemerintah Indonesia melalui Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (KemenPPPA) bersama Kementerian Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan melakukan evaluasi menyeluruh terhadap sistem keselamatan transportasi publik kereta api. Langkah ini diambil menyusul insiden tragis tabrakan antara Kereta Api (KA) Argo Bromo Anggrek dan Kereta Rel Listrik (KRL) di Stasiun Bekasi Timur pada Senin malam, 27 April 2026.

Insiden serius ini dilaporkan telah menyebabkan hilangnya nyawa sebanyak 15 orang penumpang. Sebanyak 15 korban jiwa tersebut telah berhasil diidentifikasi dan tersebar di sejumlah rumah sakit yang berada di wilayah Bekasi dan Jakarta setelah peristiwa tabrakan beruntun tersebut terjadi.

Menteri PPPA, Arifah Fauzi, mengajukan usulan mitigasi risiko spesifik yang menyasar kelompok rentan, yakni dengan melakukan reposisi gerbong khusus wanita. Usulan ini muncul mengingat gerbong khusus wanita seringkali berada di posisi ujung rangkaian kereta.

Menteri Arifah Fauzi mengungkapkan bahwa dirinya telah berkoordinasi langsung dengan pihak PT Kereta Api Indonesia (KAI) mengenai penempatan gerbong wanita yang selama ini diposisikan di bagian paling depan atau paling belakang rangkaian. "Tadi kalau tadi kita ngobrol dengan KAI itu kenapa ditaruh di paling depan, paling belakang, supaya tidak terjadi rebutan," ujar Arifah Fauzi, Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak.

Sebagai solusi preventif terhadap benturan, Menteri PPPA menyarankan agar area ujung kereta, yang memiliki potensi risiko benturan lebih tinggi, diisi oleh penumpang laki-laki. "Jadi yang laki-laki di ujung. Depan belakang itu laki-laki, jadi yang perempuan di tengah gitu," kata Arifah Fauzi, Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak.

Menanggapi hal ini, Menteri Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan, Agus Harimurti Yudhoyono, mengakui bahwa benturan yang melibatkan KRL dari belakang oleh kereta jarak jauh seperti ini adalah kejadian yang belum pernah terjadi sebelumnya. "Dan kebetulan yang paling belakang adalah kereta khusus wanita. Pasti ada concern mengapa justru yang paling rentan yang kita siapkan secara khusus selama ini gerbongnya, justru yang mendapatkan bisa dikatakan risiko yang paling tinggi," ujar Agus Harimurti Yudhoyono, Menko Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan.

Meskipun ada usulan spesifik mengenai penempatan gerbong, Menko Agus menekankan bahwa prioritas utama adalah keselamatan semua penumpang tanpa memandang perbedaan gender. "Ini juga bagian yang akan kita terus evaluasi, tapi yang jelas adalah laki dan perempuan sama saja, tidak boleh menjadi korban dalam insiden apa pun," sambung Agus Harimurti Yudhoyono, Menko Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan.

Fokus utama perbaikan yang ditekankan oleh pemerintah adalah penguatan standar keselamatan operasional secara menyeluruh, memastikan bahwa prinsip keselamatan bukan hanya sekadar slogan kosong. "Jadi yang kita fokuskan adalah bukan perempuan dan lakinya tetapi bagaimana sistem transportasi kereta dan sistem transportasi publik lainnya ini aman, selamat, menghadirkan rasa aman, nyaman, dan juga safety first itu benar-benar bukan hanya menjadi jargon tapi benar-benar bisa kita terapkan dengan baik," ujar Agus Harimurti Yudhoyono, Menko Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan.

Pemerintah juga menjamin transparansi penuh dalam proses pengungkapan akar permasalahan kecelakaan ini, dengan melibatkan Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT). "KNKT tadi sudah menyanggupi akan melakukan investigasi secara menyeluruh. Saya minta transparan, terbuka, bisa dijelaskan kepada publik. Karena ini juga harus ada faktor edukasinya," ujar Agus Harimurti Yudhoyono, Menko Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan.