PORTAL7.CO.ID - Perayaan Idul Fitri 1447 H menandai berakhirnya ibadah puasa Ramadan, namun momentum ini juga menjadi waktu penting bagi umat Islam untuk melakukan evaluasi mendalam. Refleksi ini diarahkan untuk memperkuat fondasi umat dalam menghadapi berbagai dinamika dan krisis yang terjadi di tingkat global.

Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Bidang Ekonomi Syariah, KH Sholahudin Al Aiyub, menyampaikan pesan penting dalam khutbah Idul Fitrinya. Beliau menyoroti perlunya umat Islam untuk melihat dimensi spiritual sekaligus tantangan nyata yang melanda dunia.

Pesan utama yang disampaikan adalah ajakan untuk secara kolektif memperkuat tiga pilar utama ketahanan umat. Ketiga pilar ini—ketahanan ekonomi, solidaritas sosial, dan kekuatan spiritual—dianggap sebagai bekal esensial untuk melewati ketidakpastian global.

KH Sholahudin Al Aiyub menekankan bahwa Idul Fitri seharusnya bukan sekadar seremoni tahunan, melainkan titik awal pembangunan komunitas yang berdaya dan tangguh. Hal ini penting untuk memastikan umat mampu merespons ujian zaman dengan mengedepankan nilai-nilai ajaran Islam, dilansir dari Cahaya.

Mengenai pilar pertama, KH Sholahudin Al Aiyub menggarisbawahi pentingnya membangun ketahanan ekonomi umat. Konsep ketahanan ekonomi atau economic resilience yang kini banyak dibahas oleh ekonom modern, sebenarnya telah memiliki solusi filosofis dalam Islam sejak lama.

Sebagai dasar spiritual perayaan, KH Sholahudin Al Aiyub mengingatkan, "Agar kamu mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya dan agar kamu bersyukur," mengutip firman Allah SWT dalam QS Al-Baqarah ayat 185. Rasa syukur ini menjadi landasan bagi umat untuk mengembangkan sistem ekonomi yang adil.

Sistem ekonomi Islam dibangun melalui mekanisme seperti zakat, infak, sedekah, dan wakaf, yang bertujuan mendistribusikan kekayaan secara merata. Keadilan ekonomi ini merupakan prasyarat utama bagi keberlangsungan masyarakat yang berintegritas.

Mengutip pemikir klasik, KH Sholahudin Al Aiyub menyampaikan pandangan penting tentang keadilan dalam pemerintahan: "Allah menegakkan negara yang adil walaupun kafir, dan tidak menegakkan negara yang zalim walaupun Muslim," ujar beliau, merujuk pada pandangan Imam Ibn Taimiyah.

Pilar kedua adalah penguatan kohesi sosial yang dikenal dalam Islam sebagai ukhuwah, yang merupakan modal sosial vital bagi masyarakat. Allah SWT berfirman, "Sesungguhnya orang-orang beriman itu bersaudara," sebagaimana termaktub dalam QS Al-Hujurat ayat 10.