Umat Islam di wilayah Kudus dan sekitarnya kini tengah bersiap menyambut waktu berbuka pada Selasa, 24 Februari 2026. Kewajiban menjalankan ibadah puasa Ramadan ini merujuk pada perintah Allah SWT dalam Al-Qur'an Surat Al Baqarah ayat 183. Mengetahui jadwal yang akurat menjadi kunci utama agar prosesi ibadah wajib ini dapat terlaksana dengan tertib dan tepat waktu.
Berdasarkan ketentuan syariat, batas akhir menahan diri dari hal yang membatalkan puasa adalah saat matahari terbenam atau masuknya waktu Maghrib. Untuk wilayah Kudus, masyarakat diimbau memantau jadwal sholat setempat guna memastikan momen berbuka yang sah secara hukum agama. Ketepatan waktu ini krusial mengingat puasa dimulai sejak terbit fajar hingga datangnya kegelapan malam di ufuk barat.
Merujuk pada Kitab Al Fiqh Al Manhaji karya Imam Syafi'i, esensi puasa adalah menahan diri dengan niat tulus karena Sang Pencipta. Selain sebagai penanda berakhirnya kewajiban menahan lapar dan haus, adzan Maghrib juga menjadi panggilan untuk menunaikan ibadah sholat fardu. Oleh karena itu, persiapan fisik dan spiritual perlu dilakukan menjelang detik-detik krusial pergantian waktu tersebut.
Nabi Muhammad SAW memberikan teladan penting bagi umatnya untuk senantiasa menyegerakan berbuka puasa begitu waktu Maghrib tiba. Beliau menegaskan bahwa keberadaan umat Islam akan selalu dalam kebaikan selama mereka tidak menunda-nunda saat membatalkan puasa. Anjuran ini menjadi landasan bagi kaum muslimin untuk mendahulukan asupan makanan ringan sebelum melaksanakan ibadah sholat Maghrib.
Membaca doa saat berbuka merupakan bentuk syukur mendalam atas limpahan rezeki yang diberikan oleh Allah SWT setelah seharian berjuang. Salah satu doa yang populer adalah "Allahumma laka shumtu wa 'ala rizqika afthortu" yang berarti pengakuan bahwa puasa dilakukan hanya karena-Nya. Selain itu, terdapat pula doa riwayat Abdullah bin Umar yang menekankan hilangnya rasa haus dan tetapnya pahala ibadah.
Selain doa, terdapat beberapa sunnah lain yang sangat dianjurkan untuk menambah nilai pahala bagi orang yang berpuasa. Mengonsumsi buah kurma atau seteguk air putih saat membatalkan puasa adalah tradisi yang dicontohkan langsung oleh Rasulullah SAW. Langkah sederhana ini terbukti secara medis mampu membantu mengembalikan energi tubuh yang sempat menurun selama belasan jam beraktivitas tanpa nutrisi.
Amalan mulia lainnya yang patut dilakukan adalah memberikan hidangan berbuka kepada sesama muslim yang juga sedang menjalankan ibadah puasa. Tindakan dermawan ini menjanjikan pahala yang setara dengan orang yang berpuasa tanpa mengurangi ganjaran bagi mereka yang diberi makan. Dengan memahami jadwal dan adab yang benar, diharapkan kualitas ibadah masyarakat Kudus pada 24 Februari 2026 semakin meningkat.
Sumber: Infonasional