PORTAL7.CO.ID - Raksasa otomotif asal Jepang, Nissan, tengah menjajaki peluang kolaborasi strategis dengan produsen mobil asal Cina, Chery. Langkah ini diambil sebagai bagian dari upaya perusahaan dalam memperkuat operasional manufaktur di tengah persaingan pasar global yang semakin kompetitif.
Pembicaraan intensif mengenai potensi kerja sama produksi tersebut dilaporkan berlangsung pada Kamis, 16 April 2026. Fokus utama diskusi ini adalah pemanfaatan fasilitas pabrik Nissan yang berlokasi di Sunderland, Inggris, agar dapat beroperasi lebih efektif.
"Diskusi ini berfokus pada pemanfaatan fasilitas manufaktur Nissan di Sunderland, Inggris, yang saat ini beroperasi di bawah kapasitas maksimal," sebagaimana dilansir dari autonews.com.
Langkah strategis ini diambil untuk mengoptimalkan efisiensi pabrik serta merespons dinamika pasar kendaraan listrik yang terus berubah. Kemitraan ini dinilai sebagai solusi potensial untuk mengisi sisa kapasitas produksi yang tersedia agar operasional perusahaan tetap ekonomis.
Bagi Chery, kerja sama ini berpeluang membuka jalan untuk memproduksi kendaraan di wilayah Eropa melalui infrastruktur yang sudah ada. Hal ini akan mempercepat ekspansi merek asal Cina tersebut di pasar internasional tanpa harus membangun fasilitas baru dari awal.
Pabrik Sunderland sendiri selama ini dikenal sebagai pusat produksi penting bagi Nissan di Eropa. Fasilitas tersebut merakit model-model populer seperti SUV Qashqai dan Juke, serta menjadi basis produksi bagi kendaraan listrik Nissan Leaf.
Selain perkembangan aliansi Nissan dan Chery, industri otomotif global pada tahun 2025 mencatat pertumbuhan pangsa pasar bagi 150 grup diler utama di Amerika Serikat. Namun, tantangan besar muncul pada Februari 2026 ketika registrasi kendaraan listrik (EV) dilaporkan merosot hingga di bawah 5 persen.
Meskipun pasar EV secara umum mengalami penurunan, beberapa merek seperti Toyota dan Cadillac dilaporkan tetap mampu melawan tren tersebut. Keduanya menunjukkan performa yang stabil di saat produsen lain mulai menyesuaikan strategi produksi mereka.
Di sisi lain, para produsen otomotif dan pemasok komponen saat ini sedang menantikan potensi pengembalian dana tarif sebesar 20 miliar dolar AS. Perkembangan ini menjadi sorotan utama bagi para pemangku kepentingan di sektor perdagangan internasional.