PORTAL7.CO.ID - Sebuah insiden fatal yang melibatkan tabrakan beruntun antara Kereta Rel Listrik (KRL) dan Kereta Api Argo Bromo Anggrek terjadi di area perlintasan Jalan Ampera, Bekasi, Jawa Barat. Peristiwa tragis ini dipicu oleh sebuah taksi listrik yang mendadak mogok dan terhenti tepat di tengah jalur kereta api.

Peristiwa bermula ketika KRL Commuter Line menghantam taksi listrik berwarna hijau bermerek Green SM yang mengalami mati mesin secara tiba-tiba saat berada di perlintasan. Dampak dari benturan awal ini menyebabkan KRL tersebut terhenti total dan tertahan di Stasiun Bekasi Timur, menghambat perjalanan kereta lainnya.

Situasi semakin memburuk ketika Kereta Api Argo Bromo Anggrek melintas dan menabrak rangkaian KRL yang sedang dalam posisi tertahan tersebut. Akibat dari kecelakaan beruntun yang terjadi pada Rabu, 29 April 2026, sekitar pukul 14:43 WIB ini, dilaporkan telah menimbulkan beberapa korban jiwa di lokasi kejadian.

Kecelakaan ini menimbulkan pertanyaan besar mengenai kerapnya kendaraan mogok di perlintasan kereta api, khususnya pada kendaraan listrik. Penjelasan teknis muncul dari para ahli mengenai potensi interferensi elektromagnetik yang signifikan di area jalur kereta api.

Berdasarkan data dari Pusat Penelitian Sistem Mutu dan Teknologi Pengujian LIPI, emisi elektromagnetik yang kuat dari kabel penghantar arus listrik di jalur kereta dapat memengaruhi sistem elektronik kendaraan. Medan magnet tinggi yang terpancar saat kereta mendekat berpotensi mengganggu sistem Electronic Control Unit (ECU) mobil.

"Saat kereta mendekat dalam radius 600 meter, arus tersebut menghantarkan medan magnet yang sangat tinggi ke lingkungan sekitarnya," demikian dijelaskan dalam analisis teknis mengenai fenomena tersebut. Apabila paparan medan magnet melampaui ambang batas, sistem kelistrikan kendaraan bisa mati secara mendadak, menyebabkan mobil macet total.

PT Kereta Api Indonesia (KAI) turut memberikan keterangan bahwa dinamo lokomotif mampu memancarkan medan magnet melalui rel hingga radius satu kilometer. Hal ini menjelaskan mengapa palang pintu perlintasan ditutup jauh sebelum kereta terlihat oleh mata pengendara.

Jusri Pulubuhu, seorang praktisi keselamatan berkendara dari Jakarta Defensive Driving Consulting (JDDC), memberikan pandangannya mengenai fenomena ini pada Selasa (28/4/2026). "Itu ada gelombang, ada frekuensi elektromagnetik ya. Yang kadang-kadang pada satu kondisi membuat strum itu mengalami distorsi pada saat melintas di situ," kata Jusri.

Meski fenomena ini sering terjadi pada kendaraan konvensional, Jusri menekankan perlunya investigasi mendalam mengenai kerentanan spesifik mobil listrik. "Apakah ada distorsi listrik, medan magnetik yang mengganggu kelistrikan mobil (listrik) tersebut. Nah, itu yang harus dicek dulu. Ada nggak kemungkinan kebocoran itu misalnya katakan ada hal yang nggak baik dari mobilnya sendiri. Karena kita tahu beberapa saat kemudian kereta muncul kan. Nah, semakin dekat kereta kan, yang saya tahu, medan magnet itu besar sekali. Motor sering mati, mobil sering mati," beber Jusri.