PORTAL7.CO.ID - Di era digital yang serba cepat ini, fenomena *Fear of Missing Out* (FOMO) telah menjadi beban psikologis yang menghantui banyak individu, terutama generasi muda. Setiap guliran layar di media sosial sering kali memicu rasa cemas dan rendah diri, seolah-olah kita tertinggal jauh di belakang kesuksesan orang lain yang tampak berkilau. Tekanan untuk selalu relevan dan mengikuti setiap tren global bukan hanya menguras energi fisik, tetapi juga merusak kesehatan mental serta mengikis ketenangan ruhani yang seharusnya menjadi milik setiap mukmin.
Islam mengajarkan bahwa akar dari kegelisahan ini sering kali bersumber dari kurangnya rasa syukur terhadap apa yang telah digenggam dalam tangan. Ketika mata terlalu sering menatap ke atas dalam urusan duniawi, hati akan kehilangan sensitivitas terhadap ribuan nikmat yang telah Allah limpahkan secara cuma-cuma. Allah Subhanahu wa Ta'ala telah mengingatkan hamba-Nya tentang pentingnya bersyukur sebagai kunci pembuka pintu-pintu keberkahan yang lebih luas dan penjaga hati dari rasa haus yang tak pernah usai.
وَإِذْ تَأَذَّنَ رَبُّكُمْ لَئِن شَكَرْتُمْ لَأَزِيدَنَّكُمْ ۖ وَلَئِن كَفَرْتُمْ إِنَّ عَذَابِي لَشَدِيدٌ
Terjemahan: Dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu memaklumkan; "Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih." (QS. Ibrahim: 7)
Memahami hakikat rezeki adalah fondasi utama untuk meraih ketenangan batin di tengah hiruk-pikuk dunia yang kompetitif. Tidak ada satu pun makhluk di muka bumi ini yang luput dari pengawasan dan pemberian Allah, sehingga kita tidak perlu merasa khawatir akan kekurangan atau tertinggal. Keyakinan yang kokoh pada jaminan Allah akan menghapuskan rasa cemas berlebihan terhadap apa yang belum kita miliki dan membuat kita lebih fokus pada kebermanfaatan diri.
وَمَا مِن دَآبَّةٍ فِى ٱلْأَرْضِ إِلَّا عَلَى ٱللَّهِ رِزْقُهَا وَيَعْلَمُ مُسْتَقَرَّهَا وَمُسْتَوْدَعَهَا ۚ كُلٌّ فِى كِتَٰبٍ مُّبِينٍ
Terjemahan: Dan tidak ada suatu binatang melata pun di bumi melainkan Allah-lah yang memberi rezekinya, dan Dia mengetahui tempat berdiam binatang itu dan tempat penyimpanannya. Semuanya tertulis dalam Kitab yang nyata (Lauh Mahfuzh). (QS. Hud: 6)
Salah satu obat paling mujarab untuk mengatasi penyakit FOMO adalah dengan menanamkan sifat *qana’ah*, yaitu merasa cukup dan puas atas pemberian Allah. Kekayaan yang hakiki bukanlah tumpukan harta atau tingginya jabatan yang sering dipamerkan di media sosial, melainkan kekayaan jiwa yang merasa tenang dan damai. Rasulullah SAW telah memberikan definisi yang sangat mendalam mengenai makna kekayaan yang sebenarnya agar kita tidak terjebak dalam perlombaan duniawi.
لَيْسَ الْغِنَى عَنْ كَثْرَةِ الْعَرَضِ، وَلَكِنَّ الْغِنَى غِنَى النَّفْسِ
Terjemahan: Kekayaan itu bukanlah dengan banyaknya harta benda, namun kekayaan yang hakiki adalah kekayaan jiwa (hati yang merasa cukup). (HR. Bukhari no. 6446 dan Muslim no. 1051)
Dunia ini pada hakikatnya hanyalah tempat persinggahan yang sementara dan penuh dengan tipu daya bagi mereka yang lalai akan tujuan akhirat. Kesenangan yang kita kejar dengan cara berkompetisi secara tidak sehat hanya akan membawa pada keletihan yang tak berujung dan kekosongan jiwa. Allah Subhanahu wa Ta'ala memberikan gambaran yang sangat komprehensif mengenai perumpamaan kehidupan dunia agar manusia tidak tertipu oleh gemerlapnya yang semu.
ٱعْلَمُوٓا۟ أَنَّمَا ٱلْحَيَوٰةُ ٱلدُّنْيَا لَعِبٌ وَلَهْوٌ وَزِينَةٌ وَتَفَاخُرٌۢ بَيْنَكُمْ وَتَكَاثُرٌ فِى ٱلْأَمْوَٰلِ وَٱلْأَوْلَٰدِ ۖ كَمَثَلِ غَيْثٍ أَعْجَبَ ٱلْكُفَّارَ نَبَاتُهُۥ ثُمَّ يَهِيجُ فَتَرَىٰهُ مُصْفَرًّا ثُمَّ يَكُونُ حُطَٰمًا ۖ وَفِى ٱلْءَاخِرَةِ عَذَابٌ شَدِيدٌ وَمَغْفِرَةٌ مِّنَ ٱللَّهِ وَرِضْوَٰنٌ ۚ وَمَا ٱلْحَيَوٰةُ ٱلدُّنْيَا إِلَّا مَتَٰعُ ٱلْغُرُورِ
Terjemahan: Ketahuilah, bahwa sesungguhnya kehidupan dunia ini hanyalah permainan dan suatu yang melalaikan, perhiasan dan bermegah-megah antara kamu