Transformasi teknologi telah menggeser panggung dakwah dari mimbar masjid menuju layar gawai yang serba cepat dan dinamis. Generasi Z kini memegang peran ganda sebagai audiens utama sekaligus penggerak pesan-pesan keagamaan di dunia maya. Namun, kita perlu memastikan agar kecepatan akses ini tidak menggerus kedalaman makna dan nilai-nilai spiritualitas agama.
Tantangan terbesar dalam dakwah digital saat ini adalah benturan antara substansi ajaran dengan tuntutan algoritma yang sering mengejar sensasi. Konten keislaman tidak boleh hanya sekadar memindahkan teks suci ke dalam video pendek tanpa memperhatikan kualitas penyampaiannya. Dakwah yang efektif memerlukan kesabaran dan keteladanan nyata agar mampu menyentuh sisi batin para penggunanya.
Terjemahan: Wahai orang-orang yang beriman! Jika seseorang yang fasik datang kepadamu membawa suatu berita, maka telitilah kebenarannya, agar kamu tidak mencelakakan suatu kaum karena kebodohan (kecerobohan), yang akhirnya kamu menyesali perbuatanmu itu. (QS. Al-Hujurat: 6)