PORTAL7.CO.ID - Dalam bentang sejarah peradaban manusia, esensi ketauhidan selalu menjadi medan perjuangan yang paling fundamental. Di era disrupsi yang serba cepat ini, tantangan yang dihadapi umat Islam telah bertransformasi dari sekadar penyembahan terhadap berhala fisik yang tampak mata, menjadi bentuk-bentuk kemusyrikan yang lebih halus dan tersembunyi. Tauhid bukan lagi sekadar hafalan rukun iman, melainkan sebuah komitmen eksistensial yang menuntut penyerahan total seluruh dimensi kehidupan hanya kepada Sang Khalik, sebagaimana ditegaskan dalam firman-Nya yang agung.

قُلْ إِنَّ صَلَاتِي وَنُسُكِي وَمَحْيَايَ وَمَمَاتِي لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ لَا شَرِيكَ لَهُ ۖ وَبِذَٰلِكَ أُمِرْتُ وَأَنَا أَوَّلُ الْمُسْلِمِينَ

Terjemahan: Katakanlah (Muhammad), "Sesungguhnya salatku, ibadahku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan seluruh alam, tidak ada sekutu bagi-Nya; dan demikianlah yang diperintahkan kepadaku dan aku adalah orang yang pertama-tama menyerahkan diri (muslim)." (QS. Al-An'am: 162-163)

Memasuki realitas kontemporer, kita menyaksikan bangkitnya "berhala-berhala maknawi" yang sering kali tidak disadari keberadaannya. Pemujaan terhadap ego (narsisme digital), ambisi buta terhadap kekuasaan, serta ketergantungan mutlak pada teknologi sering kali menggeser posisi Allah dalam singgasana hati. Ketika keinginan pribadi (hawa nafsu) dijadikan sebagai penentu kebenaran di atas wahyu, maka saat itulah seseorang telah terjatuh ke dalam bentuk syirik yang terselubung, yang sangat diperingatkan dalam Al-Quran.

أَرَأَيْتَ مَنِ اتَّخَذَ إِلَٰهَهُ هَوَاهُ أَفَأَنْتَ تَكُونُ عَلَيْهِ وَكِيلًا أَمْ تَحْسَبُ أَنَّ أَكْثَرَهُمْ يَسْمَعُونَ أَوْ يَعْقِلُونَ ۚ إِنْ هُمْ إِلَّا كَالْأَنْعَامِ ۖ بَلْ هُمْ أَضَلُّ سَبِيلًا

Terjemahan: "Sudahkah engkau (Muhammad) melihat orang yang menjadikan keinginannya sebagai tuhannya. Apakah engkau akan menjadi pelindungnya? Atau apakah engkau mengira bahwa kebanyakan mereka itu mendengar atau memahami? Mereka itu hanyalah seperti hewan ternak, bahkan mereka lebih sesat jalannya." (QS. Al-Furqan: 43-44)

Lebih jauh lagi, manifestasi tauhid di era digital menuntut kita untuk kembali menelusuri tanda-tanda kebesaran Allah yang terbentang luas di alam semesta maupun dalam diri kita sendiri. Pengetahuan manusia yang kian canggih seharusnya tidak membuat kita sombong, melainkan semakin tunduk atas kompleksitas ciptaan-Nya. Al-Quran mengajak kita untuk merenungkan harmoni alam sebagai bukti keesaan-Nya agar kita tidak terjebak dalam dualisme pemikiran yang memisahkan sains dari spiritualitas.

إِنَّ فِي خَلْقِ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَاخْتِلَافِ اللَّيْلِ وَالنَّهَارِ وَالْفُلْكِ الَّتِي تَجْرِي فِي الْبَحْرِ بِمَا يَنْفَعُ النَّاسَ وَمَا أَنْزَلَ اللَّهُ مِنَ السَّمَاءِ مِنْ مَاءٍ فَأَحْيَا بِهِ الْأَرْضَ بَعْدَ مَوْتِهَا وَبَثَّ فِيهَا مِنْ كُلِّ دَابَّةٍ وَتَصْرِيفِ الرِّيَاحِ وَالسَّحَابِ الْمُسَخَّرِ بَيْنَ السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ لَآيَاتٍ لِقَوْمٍ يَعْقِلُونَ

Terjemahan: "Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, silih bergantinya malam dan siang, bahtera yang berlayar di laut membawa apa yang berguna bagi manusia, dan apa yang Allah turunkan dari langit berupa air, lalu dengan air itu Dia hidupkan bumi sesudah mati (kering)-nya dan Dia tebarkan di bumi itu segala jenis hewan, dan pengisaran angin dan awan yang dikendalikan antara langit dan bumi; sungguh (terdapat) tanda-tanda (keesaan dan kebesaran Allah) bagi kaum yang memikirkan." (QS. Al-Baqarah: 164)

Penting bagi kita untuk menyadari bahwa hak Allah atas hamba-Nya adalah untuk disembah secara murni tanpa disekutukan dengan apa pun. Kesadaran ini merupakan janji keselamatan yang luar biasa bagi setiap insan yang mampu menjaganya hingga akhir hayat. Rasulullah SAW dalam sebuah hadits panjang yang diriwayatkan oleh Mu'adh bin Jabal, menekankan betapa besarnya nilai tauhid dalam menentukan nasib seorang hamba di hadapan Rabb-nya.

عَنْ مُعَاذِ بْنِ جَبَلٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ: كُنْتُ رِدْفَ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَلَى حِمَارٍ، فَقَالَ لِي: يَا مُعَاذُ، أَتَدْرِي مَا حَقُّ اللَّهِ عَلَى الْعِبَادِ وَمَا حَقُّ الْعِبَادِ عَلَى اللَّهِ؟ قُلْتُ: اللَّهُ وَرَسُولُهُ أَعْلَمُ. قَالَ: فَإِنَّ حَقَّ اللَّهِ عَلَى الْعِبَادِ أَنْ يَعْبُدُوهُ وَلَا يُشْرِكُوا بِهِ شَيْئًا، وَحَقَّ الْعِبَادِ عَلَى اللَّهِ أَنْ لَا يُعَذِّبَ مَنْ لَا يُشْرِكُ بِهِ شَيْئًا

Terjemahan: Dari Mu'adh bin Jabal RA, ia berkata: "Aku pernah membonceng Nabi SAW di atas seekor keledai, lalu beliau bersabda: 'Wahai Mu'adh, tahukah engkau apa hak Allah atas para hamba-Nya dan apa hak para hamba atas Allah?' Aku menjawab: 'Allah dan Rasul-Nya lebih mengetahui.' Beliau bersabda: 'Sesungguhnya hak Allah atas para hamba adalah hendaknya mereka menyembah-Nya dan tidak menyekutukan-Nya dengan sesuatu pun. Dan hak para hamba atas Allah adalah bahwa Dia tidak akan menyiksa orang yang tidak menyekutukan-Nya dengan sesuatu pun.'" (HR. Bukhari no. 2856 dan Muslim no. 30)

Semoga Allah SWT senantiasa membimbing hati kita agar tetap teguh dalam jalan tauhid yang lurus, menjauhkan kita dari fitnah-fitnah zaman yang menyesatkan, serta mengumpulkan kita bersama golongan orang-orang yang ikhlas dalam beribadah. "Ya Allah, Zat yang membolak-balikkan hati, teguhkanlah hati kami di atas agama-Mu dan di atas ketaatan kepada-Mu hingga kami berjumpa dengan-Mu dalam keadaan husnul khatimah." Amin ya Rabbal 'Alamin.