Di tengah derasnya arus modernisasi dan disrupsi digital, umat Islam dihadapkan pada tantangan iman yang semakin kompleks. Materialisme yang kian masif sering kali mengaburkan pandangan kita terhadap tujuan utama penciptaan sebagai hamba Allah. Menjaga kemurnian tauhid kini bukan lagi sekadar teori di atas kertas, melainkan sebuah perjuangan nyata dalam keseharian. Kesadaran akan kehadiran Tuhan harus tetap menjadi kompas utama agar kita tidak tersesat dalam gemerlap dunia yang semu.

Dunia modern menawarkan berbagai bentuk kesenangan yang tanpa disadari dapat menggiring manusia pada penghambaan terhadap materi. Pergeseran nilai sosial yang terjadi memaksa setiap Muslim untuk kembali menelaah fondasi tauhid berdasarkan tuntunan wahyu dan sunnah. Tauhid berfungsi sebagai poros utama yang menentukan kualitas amal ibadah serta arah kehidupan seorang hamba di dunia. Tanpa dasar tauhid yang kokoh, segala amal kebaikan yang dilakukan akan sirna bagaikan debu yang diterpa angin kencang.

Terjemahan: "Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka beribadah kepada-Ku. Aku tidak menghendaki rezeki sedikit pun dari mereka dan Aku tidak menghendaki agar mereka memberi makan kepada-Ku. Sungguh Allah, Dialah Pemberi rezeki yang mempunyai kekuatan lagi sangat kokoh." (QS. Adz-Dzariyat: 56-58)