Tempe, makanan fermentasi berbahan dasar kedelai, telah lama menjadi pilar utama gizi masyarakat Indonesia. Kini, status tempe telah berevolusi dari sekadar lauk pauk sederhana menjadi komoditas pangan super yang diakui khasiatnya di kancah internasional.

Proses fermentasi tempe menggunakan jamur *Rhizopus oligosporus* secara signifikan meningkatkan nilai gizi dan daya cerna protein kedelai. Fakta ini menjadikan tempe sumber protein nabati yang sangat efisien, terutama dalam mendukung pola makan berkelanjutan.

Tradisi pembuatan tempe telah mengakar kuat di Pulau Jawa selama berabad-abad, menjadikannya warisan budaya tak benda yang penting. Metode pembuatannya yang sederhana namun efektif menunjukkan kearifan lokal dalam mengolah bahan pangan pokok secara optimal.

Menurut peneliti pangan dan gizi, tempe memiliki potensi besar sebagai solusi ketahanan pangan global karena sifatnya yang mudah diproduksi massal dan kaya nutrisi esensial. Ia menekankan pentingnya standardisasi mutu agar produk fermentasi tradisional ini mampu bersaing di pasar ekspor tanpa kehilangan autentisitasnya.

Popularitas tempe yang meningkat di luar negeri mendorong inovasi produk turunan, seperti keripik tempe premium dan pengganti daging nabati berbasis tempe. Implikasi positifnya adalah peningkatan permintaan kedelai lokal dan pemberdayaan Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) produsen tempe tradisional.

Perkembangan terkini menunjukkan adanya upaya serius dari pemerintah dan akademisi untuk mendaftarkan tempe sebagai warisan kuliner dunia di lembaga internasional. Langkah ini bertujuan untuk melindungi keaslian proses pembuatan tempe sekaligus memastikan manfaatnya diakui secara global.

Tempe adalah contoh nyata bagaimana kearifan lokal dalam pengolahan pangan dapat menjawab tantangan gizi dan keberlanjutan masa kini. Dengan dukungan inovasi dan standardisasi, tempe siap menjadi duta kuliner Indonesia yang tak hanya lezat, tetapi juga sangat menyehatkan bagi dunia.