PORTAL7.CO.ID - Shalat merupakan tiang penyangga agama yang paling kokoh sekaligus menjadi media komunikasi vertikal yang sakral antara seorang hamba dengan Sang Khalik, Allah SWT. Secara etimologis, shalat dipahami sebagai doa, namun dalam cakrawala syariat, ia adalah manifestasi pengabdian yang terangkum dalam ucapan dan gerakan khusus, dimulai dengan keagungan takbir dan diakhiri dengan kedamaian salam. Namun, di balik rutinitas fisik tersebut, terdapat dimensi esoteris yang seringkali terabaikan, yakni kehadiran hati secara utuh di hadapan Rabbul Alamin.

Keberhasilan seorang mukmin dalam meniti jalan spiritualnya sangat ditentukan oleh sejauh mana ia mampu menghadirkan kualitas dalam shalatnya. Allah SWT telah memberikan penegasan mengenai kriteria keberuntungan yang hakiki bagi hamba-hamba-Nya yang beriman, yang menempatkan kekhusyukan sebagai indikator utama. Hal ini sebagaimana firman-Nya dalam Al-Qur'an:

قَدْ أَفْلَحَ الْمُؤْمِنُونَ الَّذِينَ هُمْ فِي صَلَاتِهِمْ خَاشِعُونَ وَالَّذِينَ هُمْ عَنِ اللَّغْوِ مُعْرِضُونَ وَالَّذِينَ هُمْ لِلزَّكَاةِ فَاعِلُونَ

Terjemahan: "Sesungguhnya beruntunglah orang-orang yang beriman, (yaitu) orang-orang yang khusyu' dalam sembahyangnya, dan orang-orang yang menjauhkan diri dari (perbuatan dan perkataan) yang tiada berguna, dan orang-orang yang menunaikan zakat." (QS. Al-Mu'minun: 1-4)

Dalam perspektif tasawuf dan akhlak, shalat yang dilakukan tanpa kehadiran hati (*hudhurul qalb*) diibaratkan laksana jasad yang tidak bernyawa; tampak utuh secara lahiriah namun tidak memiliki fungsi kehidupan. Ketika seorang hamba berdiri menghadap kiblat, ia seharusnya menyadari bahwa ia sedang berada di hadapan Raja dari segala raja. Kesadaran inilah yang kemudian melahirkan rasa takut yang dibalut cinta (*raja' wa khauf*), sehingga setiap bacaan yang terucap bukan sekadar hafalan lisan, melainkan rintihan jiwa yang merindukan Tuhannya.

Kualitas ihsan dalam ibadah menjadi kunci utama untuk mencapai derajat khusyu yang paripurna. Rasulullah SAW telah memberikan bimbingan yang sangat fundamental mengenai bagaimana seharusnya seorang hamba memosisikan dirinya saat beribadah kepada Allah SWT. Sebagaimana disebutkan dalam hadits panjang yang diriwayatkan oleh Imam Muslim:

قَالَ فَأَخْبِرْنِي عَنِ الْإِحْسَانِ قَالَ أَنْ تَعْبُدَ اللَّهَ كَأَنَّكَ تَرَاهُ فَإِنْ لَمْ تَكُنْ تَرَاهُ فَإِنَّهُ يَرَاكَ

Terjemahan: "Dia (Jibril) bertanya: 'Beritahukan kepadaku tentang Ihsan.' Beliau (Rasulullah) menjawab: 'Engkau menyembah Allah seolah-olah engkau melihat-Nya, maka jika engkau tidak melihat-Nya, sesungguhnya Dia melihatmu.'" (HR. Muslim)

اتْلُ مَا أُوحِيَ إِلَيْكَ مِنَ الْكِتَابِ وَأَقِمِ الصَّلَاةَ ۖ إِنَّ الصَّلَاةَ تَنْهَىٰ عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ ۗ وَلَذِكْرُ اللَّهِ أَكْبَرُ ۗ وَاللَّهُ يَعْلَمُ مَا تَصْنَعُونَ

Terjemahan: "Bacalah apa yang telah diwahyukan kepadamu, yaitu Al Kitab (Al Quran) dan dirikanlah shalat. Sesungguhnya shalat itu mencegah dari (perbuatan-perbuatan) keji dan mungkar. Dan sesungguhnya mengingat Allah (shalat) adalah lebih besar (keutamaannya dari ibadat-ibadat yang lain). Dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan." (QS. Al-Ankabut: 45)

Kesadaran akan pentingnya memperbaiki kualitas shalat harus muncul dari pemahaman bahwa shalat adalah amalan pertama yang akan dihisab pada hari kiamat kelak. Jika shalat seseorang baik dan penuh kekhusyukan, maka amalan-amalan lainnya akan mengikuti jejak kebaikan tersebut. Sebaliknya, kelalaian dalam shalat menjadi sinyal bahaya bagi keselamatan spiritual seseorang di akhirat nanti. Rasulullah SAW bersabda mengenai urgensi perkara ini:

إِنَّ أَوَّلَ مَا يُحَاسَبُ بِهِ الْعَبْدُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ مِنْ عَمَلِهِ صَلَاتُهُ فَإِنْ صَلُحَتْ فَقَدْ أَفْلَحَ وَأَنْجَحَ وَإِنْ فَسَدَتْ فَقَدْ خَابَ وَخَسِرَ