PORTAL7.CO.ID - Memahami hakikat ketuhanan merupakan kewajiban primordial yang paling mendasar bagi setiap mukallaf dalam agama Islam. Pengetahuan ini, yang sering disebut sebagai *Ma’rifatullah*, bukanlah sekadar aktivitas kognitif untuk menghafal deretan nama atau istilah teologis semata. Ia adalah sebuah proses dialektika iman yang sangat dalam, di mana wahyu ilahi bertemu dengan kejernihan akal budi untuk melahirkan keyakinan yang tidak tergoyahkan. Tanpa pondasi makrifat yang benar, ibadah seseorang berisiko kehilangan ruh dan arahnya yang paling hakiki.
Kesadaran akan eksistensi Allah Swt haruslah dibangun di atas dalil-dalil yang kuat, baik dalil naqli (Al-Qur'an dan Hadits) maupun dalil aqli (logika rasional). Allah Swt senantiasa mengajak hamba-Nya untuk merenungi penciptaan alam semesta sebagai sarana untuk mengenal-Nya secara lebih personal dan mendalam. Sebagaimana firman Allah Swt yang menekankan pentingnya tafakur bagi mereka yang memiliki kejernihan pikiran:
إِنَّ فِي خَلْقِ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَاخْتِلَافِ اللَّيْلِ وَالنَّهَارِ لَآيَاتٍ لِأُولِي الْأَلْبَابِ الَّذِينَ يَذْكُرُونَ اللَّهَ قِيَامًا وَقُعُودًا وَعَلَىٰ جُنُوبِهِمْ وَيَتَفَكَّرُونَ فِي خَلْقِ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ رَبَّنَا مَا خَلَقْتَ هَٰذَا بَاطِلًا سُبْحَانَكَ فَقِنَا عَذَابَ النَّارِ
Terjemahan: "Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal, (yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadaan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): 'Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia, Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka'." (QS. Ali 'Imran: 190-191)
Sifat pertama dan yang paling fundamental dalam sistematika ini adalah *Wujud* (Eksistensi). Secara logika, keberadaan alam semesta yang penuh keteraturan ini mustahil terjadi dengan sendirinya tanpa adanya Pencipta yang Maha Bijaksana. Setiap perubahan yang terjadi di alam raya ini menunjukkan sifat *haduts* (baru/berubah), dan setiap yang baru pastilah membutuhkan *Muhdits* (Pencipta) yang bersifat *Qadim* (Terdahulu tanpa permulaan). Allah Swt menegaskan kekuasaan-Nya yang mutlak atas seluruh ciptaan-Nya dalam ayat berikut:
إِنَّ رَبَّكُمُ اللَّهُ الَّذِي خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ فِي سِتَّةِ أَيَّامٍ ثُمَّ اسْتَوَىٰ عَلَى الْعَرْشِ يُغْشِي اللَّيْلَ النَّهَارَ يَطْلُبُهُ حَثِيثًا وَالشَّمْسَ وَالْقَمَرَ وَالنُّجُومَ مُسَخَّرَاتٍ بِأَمْرِهِ ۗ أَلَا لَهُ الْخَلْقُ وَالْأَمْرُ ۗ تَبَارَكَ اللَّهُ رَبُّ الْعَالَمِينَ
Terjemahan: "Sesungguhnya Tuhan kamu ialah Allah yang telah menciptakan langit dan bumi dalam enam masa, lalu Dia bersemayam di atas 'Arsy. Dia menutupkan malam kepada siang yang mengikutinya dengan cepat, dan (diciptakan-Nya pula) matahari, bulan dan bintang-bintang (masing-masing) tunduk kepada perintah-Nya. Ingatlah, menciptakan dan memerintah hanyalah hak Allah. Maha Suci Allah, Tuhan semesta alam." (QS. Al-A'raf: 54)
هُوَ الْأَوَّلُ وَالْآخِرُ وَالظَّاهِرُ وَالْبَاطِنُ ۖ وَهُوَ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمٌ
Terjemahan: "Dialah Yang Awal dan Yang Akhir, Yang Zhahir dan Yang Bathin; dan Dia Maha Mengetahui segala sesuatu." (QS. Al-Hadid: 3)
Hubungan antara hamba dan Pencipta juga diperkuat melalui pemahaman sifat *Iradah* (Berkehendak) dan *Qudrah* (Kuasa). Seorang mukmin yang memahami bahwa segala sesuatu yang terjadi di alam semesta ini berada di bawah kendali mutlak Allah tidak akan mudah berputus asa saat menghadapi ujian, dan tidak akan sombong saat meraih keberhasilan. Ia memahami bahwa dirinya hanyalah instrumen dalam skenario agung ilahi, yang menuntut kesabaran dalam kesulitan dan kesyukuran dalam kelapangan.
Penting bagi kita untuk menyadari bahwa mempelajari akidah secara sistematis adalah warisan intelektual para ulama salaf yang harus dijaga. Di tengah gempuran ideologi modern yang seringkali mereduksi peran Tuhan, pemahaman akidah yang kokoh menjadi jangkar yang menjaga kita agar tidak terombang-ambing. Rasulullah Saw dalam sebuah hadits yang sangat masyhur menjelaskan esensi dari iman yang harus menghunjam kuat dalam sanubari setiap insan:
قَالَ: فَأَخْبِرْنِي عَنِ الْإِيمَانِ، قَالَ: أَنْ تُؤْمِنَ بِاللَّهِ، وَمَلَائِكَتِهِ، وَكُتُبِهِ، وَرُسُلِهِ، وَالْيَوْمِ الْآخِرِ، وَتُؤْمِنَ بِالْقَدَرِ خَيْرِهِ وَشَرِّهِ