Aku selalu mengira bahwa menjadi dewasa hanyalah soal bertambahnya angka usia dan tinggi badan. Namun, semesta memiliki cara yang lebih sunyi sekaligus menyakitkan untuk memperkenalkan arti kematangan yang sesungguhnya.

Badai itu datang tanpa permisi, meruntuhkan pilar-pilar kenyamanan yang selama ini aku anggap abadi dan tak tergoyahkan. Dalam semalam, tawa yang biasanya memenuhi ruang tamu berganti menjadi keheningan yang menyesakkan dada.

Aku dipaksa berdiri di garis depan, memikul tanggung jawab yang sebelumnya tak pernah terlintas dalam benak kekanak-kakanku. Setiap keputusan kini terasa seberat gunung, menuntut keberanian yang belum pernah aku asah sebelumnya.

Air mata tak lagi menjadi pelarian, melainkan bensin yang membakar semangatku untuk terus melangkah meski kaki gemetar. Aku mulai menyadari bahwa mengeluh hanyalah cara halus untuk menunda pertumbuhan jiwa yang sedang ditempa.

Perjalanan ini terasa seperti membaca lembar demi lembar novel kehidupan yang penuh dengan plot twist tak terduga. Di setiap babnya, aku belajar bahwa kedewasaan bukan tentang ketiadaan masalah, melainkan cara kita meresponsnya dengan tenang.

Teman-teman sebayaku mungkin masih sibuk mengejar validasi dunia maya yang semu dan melelahkan. Sementara itu, aku sibuk berdamai dengan luka-luka lama yang kini perlahan mengering dan membentuk karakter yang lebih tangguh.

Kini, aku melihat cermin dan tidak lagi menemukan sosok remaja manja yang selalu menuntut perhatian lebih. Ada binar ketegaran di mataku, sebuah tanda bahwa badai telah berhasil aku jinakkan dengan kesabaran.

Kedewasaan adalah sebuah pilihan untuk tetap berbuat baik meski dunia sedang tidak ramah kepada kita. Sebab pada akhirnya, bukan seberapa banyak kita menang, tapi seberapa bijak kita saat harus menerima kekalahan.