Kereta malam itu membawa kepulan asap dan sejuta keraguan yang bersarang di dadaku. Aku meninggalkan rumah dengan ego yang meluap, tanpa menyadari bahwa dunia luar akan segera mematahkan sayapku yang rapuh.
Hari-hari pertama di perantauan terasa mencekik dengan sunyi yang tak kunjung usai. Aku mulai menyadari bahwa sepiring nasi hangat di meja makan rumah adalah kemewahan yang dulu sering kusepelekan begitu saja.
Kegagalan demi kegagalan datang silih berganti, meruntuhkan rasa percaya diri yang selama ini kubanggakan. Aku harus belajar menelan harga diri demi bertahan hidup di tengah kerasnya kota yang tidak mengenal belas kasihan.
Setiap luka yang tergores di hati seolah menjadi bab baru dalam novel kehidupan yang sedang kutulis sendiri. Aku perlahan mengerti bahwa kedewasaan bukan tentang berapa usia kita, melainkan bagaimana kita merespons rasa sakit dengan bijaksana.
Aku berhenti menyalahkan takdir dan mulai mengambil tanggung jawab penuh atas setiap keputusan yang kubuat. Air mata yang jatuh bukan lagi tanda kelemahan, melainkan pupuk bagi jiwa yang sedang bertumbuh di tanah yang gersang.
Hubunganku dengan orang tua yang sempat mendingin kini mulai mencair seiring dengan pemahamanku yang baru. Aku menelepon mereka bukan untuk meminta bantuan, melainkan untuk sekadar mendengar suara yang dulu sering kuabaikan.
Kini, aku berdiri di depan cermin dan melihat sosok yang jauh berbeda dari pemuda naif beberapa waktu lalu. Mataku memancarkan ketenangan yang hanya bisa didapat setelah melewati badai yang hebat dan melelahkan.
Kedewasaan adalah seni untuk tetap berdiri tegak meski beban di pundak terasa semakin berat setiap harinya. Aku bersyukur atas setiap kerikil tajam yang sempat membuatku tersandung dan terjatuh di sepanjang perjalanan ini.
Pada akhirnya, kita semua adalah pengembara yang sedang mencari jalan pulang menuju versi terbaik dari diri sendiri. Apakah kau sudah siap memaafkan masa lalumu untuk menjemput masa depan yang jauh lebih bermakna?