PORTAL7.CO.ID - Di era disrupsi yang serba cepat ini, manusia sering kali terjebak dalam pusaran materialisme yang mengaburkan esensi sejati dari keberadaan mereka di muka bumi. Kemajuan teknologi yang pesat dan dominasi rasionalisme ekstrem cenderung meminggirkan peran Tuhan dari ruang publik, seolah-olah kesuksesan hanya ditentukan oleh variabel materi semata. Fenomena ini menuntut kita untuk melakukan refleksi mendalam mengenai posisi iman di tengah gempuran ideologi sekuler yang kian masif dan sistematis.

Kesadaran akan hakikat penciptaan adalah langkah awal yang fundamental untuk mengokohkan kembali fondasi tauhid dalam jiwa setiap Muslim. Allah Subhanahu wa Ta'ala telah menegaskan dengan sangat jelas bahwa seluruh keberadaan jin dan manusia tidak lain hanyalah untuk mengabdi dan beribadah kepada-Nya secara totalitas. Pemahaman ini menjadi sangat krusial agar kita tidak kehilangan arah di tengah gemerlapnya dunia yang sering kali menipu dan melalaikan manusia dari tujuan akhirnya.

وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنْسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ. مَا أُرِيدُ مِنْهُمْ مِنْ رِزْقٍ وَمَا أُرِيدُ أَنْ يُطْعِمُونِ. إِنَّ اللَّهَ هُوَ الرَّزَّاقُ ذُو الْقُوَّةِ الْمَتِينُ

Terjemahan: "Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka beribadah kepada-Ku. Aku tidak menghendaki rezeki sedikit pun dari mereka dan Aku tidak menghendaki agar mereka memberi makan kepada-Ku. Sungguh Allah, Dialah Pemberi rezeki yang mempunyai kekuatan lagi sangat kokoh." (QS. Ad-Dzariyat: 56-58)

Tantangan terbesar di era kontemporer adalah munculnya "tuhan-tuhan baru" dalam bentuk jabatan, kekayaan, dan ego pribadi yang sering kali disembah secara tidak sadar oleh banyak orang. Manusia modern cenderung menghambakan diri pada pencapaian duniawi hingga melupakan batas-batas syariat dan etika ketuhanan yang seharusnya menjadi standar utama. Oleh karena itu, manifestasi tauhid harus diwujudkan dalam bentuk penyerahan diri secara total kepada kehendak Sang Pencipta dalam setiap hembusan napas dan langkah kaki.

قُلْ إِنَّ صَلَاتِي وَنُسُكِي وَمَحْيَايَ وَمَمَاتِي لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ. لَا شَرِيكَ لَهُ ۖ وَبِذَٰلِكَ أُمِرْتُ وَأَنَا أَوَّلُ الْمُسْلِمِينَ

Terjemahan: "Katakanlah (Muhammad), 'Sesungguhnya salatku, ibadahku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan seluruh alam, tidak ada sekutu bagi-Nya; dan demikianlah yang diperintahkan kepadaku dan aku adalah orang yang pertama-tama berserah diri (Muslim).'" (QS. Al-An'am: 162-163)

Secara epistemologis, tauhid memberikan kerangka berpikir yang jernih dalam membedakan antara kebenaran hakiki dan fatamorgana duniawi yang sering kali memukau mata. Di tengah banjir informasi dan hoaks di era digital, seorang mukmin yang bertauhid akan memiliki "furqan" atau kemampuan spiritual untuk membedakan yang hak dan yang batil. Hal ini sangat penting untuk menjaga kesehatan mental dan spiritual agar tidak mudah terombang-ambing oleh tren modernitas yang sering kali menyesatkan.

Kita juga harus senantiasa waspada terhadap tipu daya kehidupan dunia yang oleh Al-Quran digambarkan sebagai permainan dan

Sumber: Muslimchannel

https://muslimchannel.id/post/manifestasi-tauhid-di-era-disrupsi-analisis-ontologis-dan-aksiologis-terhadap-eksistensi-iman