Cahaya lampu temaram di sudut kamar seolah menertawakan kehampaan yang kurasakan malam itu. Kegagalan besar baru saja menghantam, meruntuhkan seluruh rencana yang telah kususun dengan begitu rapi selama bertahun-tahun.
Aku terbiasa menyalahkan keadaan dan orang lain atas setiap kerikil tajam yang melukai langkahku. Namun, kali ini sunyi memaksa jiwaku untuk berhenti berlari dan mulai berkaca pada kesalahan yang selama ini kututupi.
Ternyata, setiap bab dalam novel kehidupan yang kujalani tidak selalu berisi tentang kemenangan yang gemilang. Ada lembaran-lembaran kelam yang sengaja ditulis semesta agar aku belajar tentang arti kerendahan hati dan penerimaan.
Aku mulai memahami bahwa kedewasaan tidak datang bersamaan dengan bertambahnya angka usia yang tertera di kartu identitas. Ia hadir lewat keberanian untuk mengakui kerapuhan dan kemauan untuk memperbaiki retakan yang ada di dalam jiwa.
Hari-hari yang biasanya penuh keluhan kini berganti dengan heningnya proses belajar yang panjang dan terkadang melelahkan. Aku tidak lagi mengejar pengakuan dunia, melainkan kedamaian batin yang selama ini terabaikan karena ego yang terlalu tinggi.
Teman-teman lama mulai menjauh seiring dengan perubahan cara pandangku yang tak lagi sejalan dengan hura-hura mereka. Namun, kesepian itu justru menjadi guru terbaik yang mengajarkanku cara mencintai diri sendiri tanpa syarat dan ketergantungan.
Setiap air mata yang jatuh kini terasa seperti air yang menyirami benih kebijaksanaan di dalam dada. Aku belajar bahwa melepaskan sesuatu yang bukan lagi milikku adalah bentuk kekuatan tertinggi yang bisa dimiliki seorang manusia.
Langit sore itu tampak lebih indah, bukan karena warnanya yang berbeda, melainkan karena mataku telah sembuh dari kebutaan ego. Aku siap melangkah lagi, bukan sebagai pemenang yang sombong, tapi sebagai pejuang yang jauh lebih bijak.
Pada akhirnya, luka bukanlah akhir dari segalanya, melainkan pintu masuk bagi cahaya untuk menyinari sisi tergelap hati kita. Pertanyaannya, apakah kamu sudah cukup berani untuk membiarkan dirimu hancur demi menjadi pribadi yang lebih utuh?