Muhammadiyah senantiasa berkomitmen dalam menjaga kemurnian akidah umat melalui gerakan pemurnian yang berkelanjutan dan terukur. Ketua Umum PP Muhammadiyah, Haedar Nashir, memberikan wawasan mendalam mengenai sejarah perjuangan organisasi dalam memberantas penyakit TBC. Upaya ini merupakan bagian integral dari misi dakwah untuk mengembalikan umat kepada ajaran Islam yang autentik dan murni.

Berdasarkan catatan sejarah, isu Takhayul, Bid’ah, dan Churafat (TBC) mulai mengemuka secara signifikan di Muhammadiyah setelah tahun 1927. Fenomena ini muncul seiring dengan meluasnya dakwah yang dilakukan oleh para mubalig dari wilayah barat Indonesia ke berbagai daerah. Sebelumnya, fokus gerakan lebih banyak tertuju pada aspek sosial dan pendidikan sebelum akhirnya menyentuh ranah pemurnian ritual keagamaan.

وَأَنَّ هَٰذَا صِرَاطِي مُسْتَقِيمًا فَاتَّبِعُوهُ ۖ وَلَا تَتَّبِعُوا السُّبُلَ فَتَفَرَّقَ بِكُمْ عَنْ سَبِيلِهِ

Terjemahan: Dan bahwa (yang Kami perintahkan ini) adalah jalan-Ku yang lurus, maka ikutilah dia, dan janganlah kamu mengikuti jalan-jalan (yang lain), karena jalan-jalan itu mencerai-beraikan kamu dari jalan-Nya. (QS. Al-An'am: 153)

Haedar Nashir menegaskan bahwa relasi antara Tauhid, Tajdid, dan pemberantasan TBC adalah satu kesatuan yang tidak terpisahkan dalam tubuh Muhammadiyah. Beliau menjelaskan bahwa Tajdid bukan sekadar modernisasi, melainkan upaya menghidupkan kembali nilai-nilai Tauhid yang murni di tengah masyarakat. Pemahaman sejarah yang tepat sangat diperlukan agar generasi muda memahami urgensi dari setiap langkah dakwah yang diambil organisasi.

Dalam kehidupan sehari-hari, penerapan nilai-nilai ini menuntut kita untuk lebih selektif dan kritis terhadap berbagai fenomena budaya yang berkembang. Kita perlu memastikan bahwa setiap amal ibadah yang dilakukan sepenuhnya bersandar pada tuntunan Al-Quran dan As-Sunnah yang sahih. Hal ini akan menghindarkan kita dari praktik kesyirikan terselubung yang dapat merusak kualitas ketauhidan seorang Muslim secara perlahan.

Menjaga kemurnian Tauhid adalah tugas kolektif yang harus terus diperjuangkan dengan cara-cara yang santun, bijak, dan mencerahkan. Melalui semangat Tajdid, Muhammadiyah mengajak seluruh elemen bangsa untuk membangun peradaban yang berlandaskan pada nilai-nilai ketuhanan yang benar. Semoga Allah senantiasa membimbing kita untuk tetap istiqamah di atas jalan-Nya yang penuh dengan rahmat dan keberkahan.