Transformasi media sosial secara perlahan telah mengubah pola kebiasaan membaca di kalangan mahasiswa saat ini. Layar ponsel kini menjadi rujukan utama dalam mencari informasi, sementara lembaran buku fisik mulai ditinggalkan oleh generasi muda. Konten digital yang menawarkan kecepatan membuat posisi buku kian terpinggirkan, meski kedalaman ilmu di dalamnya tidak akan pernah tergantikan.
Di tengah pergeseran budaya tersebut, sebuah toko buku sederhana masih kokoh berdiri di kawasan kampus Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Gunung Djati Bandung. Tempat tersebut dikenal dengan nama Toko Buku Iqra yang tetap setia melayani para pencari ilmu. Meski bangunannya tidak besar dan mewah, toko ini selalu terbuka bagi siapa saja yang rindu menyentuh lembaran kertas.
Chairil Chalik, sang pemilik, memilih untuk tetap konsisten mengelola usahanya ketika banyak toko buku lain terpaksa gulung tikar. Ia menjadi saksi bagaimana perubahan zaman menggerus bisnis literasi konvensional di sekitar lingkungannya. Namun, semangatnya tidak padam karena ia memiliki visi yang lebih besar daripada sekadar mengejar keuntungan materi semata.
Bagi Chairil, menjual buku bukan sekadar urusan dagang atau transaksi komersial biasa di pasar. Ia memandang aktivitas ini sebagai bagian tak terpisahkan dari perjalanan hidup yang telah ia rintis sejak usia remaja. Dedikasi inilah yang membuatnya mampu bertahan menghadapi tantangan berat di era disrupsi informasi yang sangat masif.
Keberadaan Toko Buku Iqra menjadi oase di tengah gempuran konten instan yang seringkali dangkal secara substansi. Mahasiswa di sekitar Bandung masih memiliki kesempatan untuk mendapatkan referensi berkualitas melalui koleksi yang disediakan oleh Chairil. Hal ini membuktikan bahwa nilai sebuah buku tetap memiliki tempat tersendiri di hati para akademisi sejati.
Meskipun tren digital terus berkembang pesat, toko kecil ini tetap menjaga nafas literasi agar tidak hilang ditelan zaman. Chairil terus berupaya memastikan bahwa akses terhadap ilmu pengetahuan melalui buku tetap tersedia bagi generasi mendatang. Kegigihannya menjadi inspirasi bahwa kecintaan terhadap literasi dapat mengalahkan dominasi teknologi yang serba cepat.
Toko Buku Iqra adalah simbol perlawanan terhadap budaya instan yang saat ini sedang melanda dunia pendidikan. Melalui ketekunan Chairil Chalik, buku tetap menjadi pelita bagi mereka yang haus akan kedalaman wawasan. Kehadiran toko ini menegaskan bahwa esensi membaca tidak akan pernah bisa digantikan sepenuhnya oleh perangkat elektronik apa pun.
Sumber: Detik