PORTAL7.CO.ID - Pegiat kendaraan listrik dari Komunitas Sepeda/Motor Listrik Indonesia (Kosmik), Hendro Sutono, memberikan sorotan tajam terhadap fenomena rebranding produk otomotif asal China di pasar domestIK pada Rabu (15/4/2026). Isu ini mencuat ke permukaan seiring dengan munculnya keraguan publik terhadap orisinalitas motor listrik Emmo JVX GT yang dilibatkan dalam program Makan Bergizi Gratis (MBG).
Berdasarkan informasi yang dilansir dari Detik Oto, motor listrik yang digunakan dalam program pemerintah tersebut diduga kuat merupakan hasil branding ulang dari produk asal China, yaitu Kollter ES1-X PRO. Di platform marketplace Alibaba, unit Kollter tersebut diketahui dibanderol dengan harga sekitar Rp10 juta, sementara praktik produksi tanpa merek atau white label oleh pabrikan China dinilai sudah menjadi hal yang lumrah.
"Praktik rebranding seperti ini sebenarnya merupakan fenomena yang sudah lazim dilakukan oleh perusahaan lokal di pasar kendaraan listrik saat ini," ujar Hendro Sutono.
Hendro menjelaskan bahwa maraknya fenomena ini justru mempermudah masyarakat untuk membedakan mana produk yang benar-benar hasil rancang bangun lokal dan mana yang sekadar kerja sama impor. Meskipun sejumlah produsen mulai memproduksi beberapa komponen secara mandiri, ketergantungan terhadap komponen inti dari luar negeri masih menjadi tantangan besar.
"Justru saat ini jauh lebih mudah bagi kita untuk menyebutkan produk mana saja yang murni hasil rancang bangun dari lokal Indonesia," sambung Hendro Sutono.
Mengenai klaim Tingkat Kandungan Dalam Negeri (TKDN) motor Emmo yang menyentuh angka 48,5 persen, Hendro memberikan perspektif kritis mengenai cara kerja regulasi tersebut. Menurutnya, persentase TKDN yang ada saat ini lebih banyak merepresentasikan nilai perputaran uang di dalam negeri dibandingkan dengan penguasaan teknologi yang sesungguhnya.
"Namun, memang sudah ada beberapa produsen yang mulai melakukan produksi lokal untuk komponen tertentu, seperti rangka, bodi, hingga bagian velg kendaraan," kata Hendro Sutono.
Lebih lanjut, Hendro menekankan pentingnya membedakan antara nilai ekonomi yang dihasilkan dengan kedaulatan teknologi pada sebuah produk otomotif. Hal inilah yang menyebabkan sebuah kendaraan secara administratif dapat dikategorikan sebagai produk lokal, namun secara teknis tetap memiliki ketergantungan tinggi pada pihak asing.
"Kedaulatan teknologi dan nilai ekonomi adalah dua hal yang terdengar mirip, tetapi sesungguhnya memiliki substansi yang sangat berbeda," jelas Hendro Sutono.