Malam itu, sunyi terasa lebih berat dari biasanya saat aku menatap pantulan diriku di cermin yang retak. Aku menyadari bahwa bayangan yang menatap balik bukan lagi remaja yang penuh amarah dan tuntutan kepada dunia.
Kehilangan yang datang tanpa mengetuk pintu telah meruntuhkan menara gading kenyamanan yang selama ini kubangun dengan angkuh. Aku dipaksa berdiri di atas kaki sendiri saat dunia terasa sedang berguncang hebat di bawah pijakanku yang rapuh.
Awalnya, aku menyalahkan takdir dan setiap orang yang berpapasan denganku di persimpangan jalan yang gelap ini. Namun, kemarahan hanyalah api yang membakar diriku sendiri tanpa pernah memberikan kehangatan yang benar-benar kubutuhkan.