PORTAL7.CO.ID - Menjelang perayaan Hari Raya Nyepi, umat Hindu menjalankan rangkaian ritual penting, salah satunya adalah tradisi Makemit, yakni kegiatan bermalam di lingkungan pura. Tradisi ini merupakan wujud penghormatan mendalam terhadap energi spiritual yang dipercaya bersemayam di tempat suci tersebut.

Di tengah hiruk pikuk perkotaan Depok, Pura Tri Bhuana Agung menjadi pusat kegiatan spiritual bagi umat Hindu setempat dalam rangka persiapan Nyepi. Berbagai persiapan ritual intensif dilakukan, mulai dari penataan sesajen hingga pembersihan area pura.

Persiapan ini mencakup pula prosesi Melasti yang krusial, sebuah ritual penyucian diri dan alam semesta yang dilaksanakan di sumber air. Kadek Budhi Aryawan, Humas Komunitas Banjar sekaligus pengelola Pura Tri Bhuana Agung Depok, menjelaskan bahwa prosesi Melasti ini biasanya dilaksanakan di Pura Segara Cilincing, Jakarta Utara.

Nama Pura Tri Bhuana Agung sendiri mengandung filosofi yang dalam, merujuk pada tiga jalan menuju moksa, yaitu Dharma, latihan rohani, dan kesucian. Struktur arsitektur pura ini mengadopsi kearifan lokal Bali dengan tiga tingkatan yang melambangkan bumi, jalan menuju pembebasan spiritual, dan Astana sebagai tempat bersemayam Sang Hyang Widhi Wasa.

Karena keterbatasan lahan di lokasi tersebut, pura ini menerapkan konsep Eka Mandala, yang berfokus pada ruang utama atau Utamaning Mandala. Ritual Melasti bertujuan menyucikan diri dan benda-benda sakral dengan membawanya ke laut, yang dipercaya memiliki kekuatan pemurnian.

Setelah prosesi penyucian diri melalui Melasti, umat Hindu kemudian melanjutkan dengan tradisi Makemit, yaitu bermalam di pura secara bergiliran hingga mendekati waktu upacara Tawur Kesanga. Kadek Budhi Aryawan menjelaskan sistem penjagaan ini, "Setiap malam perwakilan Tempek menjaga pura dan mengikuti kegiatan spiritual hingga pagi. Sistemnya sederhana, dengan 2-5 orang per Tempek," ujarnya.

Makemit memiliki fungsi vital, yaitu menjaga Tirta Kamandalu, atau air suci yang akan digunakan dalam upacara Tawur Kesanga, sebagai simbol energi positif. Penjagaan ini juga melambangkan kewaspadaan terhadap energi negatif Butha Kala yang mungkin mengganggu kesucian.

"Melasti menjadi simbol pembersihan diri, sementara Makemit menjaga kesucian hati," ungkap Kadek Budhi Aryawan mengenai makna ganda dari kedua ritual tersebut. Proses ini berlangsung hingga sehari sebelum Nyepi, yang ditandai dengan upacara Mecaru untuk menyeimbangkan energi alam, dilanjutkan dengan Pengerupukan pada malam harinya.

Bagi para peserta Makemit, malam yang dihabiskan di pura memiliki nilai spiritual yang sangat tinggi karena kedekatan dengan energi suci. Selain menjaga Tirta Kamandalu, mereka juga mengawasi benda-benda sakral warisan pendiri pura, yang telah dibersihkan saat Melasti.