Dulu, dunia bagiku hanyalah kanvas lebar yang menunggu untuk dilukis dengan warna-warna paling cerah, penuh ambisi muda dan keyakinan tak tergoyahkan. Aku percaya bahwa kedewasaan akan datang perlahan, seiring dengan wisuda dan pekerjaan impian di ibukota; sebuah proses yang elegan dan terencana.

Namun, hidup punya skenarionya sendiri yang jauh dari gemerlap impian. Semuanya berubah dalam satu malam sunyi ketika kabar buruk datang, merobek ketenangan keluarga kami hingga ke akar-akarnya. Tiba-tiba, aku yang seharusnya sibuk memilih mata kuliah, harus berhadapan dengan tumpukan tagihan dan wajah cemas Ibu.

Beban tanggung jawab itu terasa seperti mantel besi yang terlalu berat untuk pundak remajaku. Aku harus menanggalkan mimpi-mimpi kuliah seni yang sudah kurangkai matang, menggantinya dengan perhitungan kasar tentang modal usaha dan harga bahan baku di pasar subuh. Rasanya pahit, seperti menelan pasir kering.

Setiap pagi, saat teman-temanku mengunggah foto buku-buku baru di kampus, aku justru berkutat di dapur, memastikan warung kecil kami tetap mengepulkan asap. Ada rasa marah dan iri yang menyelimuti, sebuah protes keras terhadap takdir yang seolah merenggut hakku untuk menjadi muda.

Tetapi, melalui rutinitas yang monoton dan melelahkan itu, aku mulai menemukan pelajaran yang tak pernah diajarkan di bangku sekolah. Kedewasaan ternyata bukan soal usia atau gelar, melainkan kemampuan untuk tetap berdiri tegak ketika semua pilar penopang runtuh.

Aku belajar berbicara dengan pedagang, merundingkan harga, dan bahkan menghadapi kegagalan kecil tanpa air mata. Setiap kesalahan, setiap perhitungan yang meleset, menjadi guru yang keras namun jujur, mengikis habis sifat kekanak-kanakan yang selama ini kupelihara.

Dalam keheningan malam setelah menutup warung, aku menyadari bahwa fase ini adalah babak paling krusial. Ini adalah inti dari Novel kehidupan yang sedang kutulis; sebuah kisah yang menuntut karakter utama untuk bertransformasi dari seorang pemimpi menjadi seorang pejuang sejati.

Luka-luka emosional yang tercipta karena kehilangan kesempatan dan pengorbanan itu, perlahan mengukir diriku menjadi pribadi yang lebih kuat dan empatik. Aku tidak lagi melihat dunia hanya dari sudut pandangku sendiri, tetapi dari perspektif mereka yang berjuang keras hanya untuk bertahan hidup.

Kini, meskipun jalan yang kutempuh jauh berbeda dari peta impian awal, aku berjalan dengan keyakinan baru. Aku tahu bahwa badai terbesar yang mampu kita taklukkan adalah badai dalam diri kita sendiri. Lantas, apakah aku sudah benar-benar dewasa? Mungkin belum sepenuhnya, tetapi setidaknya, aku sudah tahu cara memegang kemudi kapal di tengah gelombang yang tak terduga.