Kereta senja itu membawa pergi masa kecilku yang penuh tawa dan kemanjaan di kampung halaman. Di balik jendela yang berembun, aku melihat bayangan diri yang masih terlalu rapuh untuk menghadapi kerasnya dunia luar.
Setibanya di kota yang tak pernah tidur, aku menyadari bahwa doa ibu adalah satu-satunya bekal paling berharga. Dinginnya trotoar dan kerasnya persaingan mulai mengikis ego yang selama ini kupelihara dengan penuh kebanggaan.
Suatu malam, kegagalan menghantamku begitu keras hingga aku terduduk lemas di sudut kamar kos yang sempit. Dalam sunyi itu, aku mulai menuliskan setiap kepedihan sebagai bab baru dalam novel kehidupan yang sedang kurangkai sendiri.
Aku belajar bahwa menjadi dewasa bukan tentang berapa angka usia yang tertera di dalam kartu identitas. Dewasa adalah saat kita mampu memaafkan diri sendiri atas kesalahan masa lalu dan berani melangkah kembali dengan kepala tegak.
Pekerjaan demi pekerjaan kujalani dengan peluh yang tak lagi terasa membebani pundak yang mulai menguat. Rasa lelah berubah menjadi kepuasan batin saat aku mampu berdiri di atas kaki sendiri tanpa harus merepotkan siapapun lagi.
Pertemuan dengan orang-orang asing di persimpangan jalan memberiku perspektif baru tentang arti sebuah empati. Ternyata, setiap orang sedang memperjuangkan pertempuran batin yang tak pernah mereka ceritakan secara terbuka kepada dunia.
Perlahan, luka-luka lama mulai mengering dan meninggalkan bekas yang justru membuatku merasa jauh lebih tangguh. Aku tidak lagi membenci rasa sakit, karena tanpanya, aku takkan pernah mengenal arti keberanian yang sesungguhnya.
Kini, aku berdiri di puncak gedung ini sambil menatap cakrawala yang perlahan berubah warna menjadi keemasan. Kedewasaan ternyata bukanlah sebuah tujuan akhir, melainkan perjalanan tanpa henti untuk menjadi manusia yang jauh lebih bermakna bagi sesama.